Cigombong, Pakuan pos – Tempat pengolahan ikan cue tongkol di Kampung Cigowang, RT 3 RW 3, Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Bogor, Jawa Barat, memicu keresahan warga. Pasalnya, limbah pembuangan dari pengolahan ikan tersebut mengeluarkan bau tidak sedap yang sangat mengganggu. Dan selama ini tidak ada kompensasi apapun untuk masyarakat dari pihak pengusaha.

“Selama pabrik cue itu ada di sini kami belum pernah mendapat kompensasi apapun. Kami hanya kebagian bau gak enak kayak bau kotoran. Jelas kami sangat mengganggu. Yang kami tau, pengusaha cue itu buang limbahnya ke kebun bambu dan mereka membuat bangunan seperti septiktank”, beber Yasip, warga sekitar yang diamini oleh istrinya, Senin (08/03/2021)

Yasip menambahkan, dulu, saat akan dibangun tempat pengolahan ikan cue tongkol itu, pengusaha pernah menitipkan uang kompensasi ijin lingkungan untuk 30 orang warga kepada ketua RW yang menjabat saat itu, yang bernama Ahmad, sebesar 3 juta rupiah. Namun warga yang menerima hanya 10 orang, masing – masing diberi sebesar 50 ribu rupiah per orang.

Keluhan yang sama dikatakan oleh Ati, warga lain yang tempat tinggalnya tidak jauh dari tempat pengolahan ikan cue tongkol. Menurutnya, bau mirip kotoran manusia yang berasal dari pengolahan ikan yang sangat mengganggu itu mengundang kerumunan lalat hijau.

“Dulu sebelum ada pabrik cue itu udara disini seger. Tapi setelah ada pabrik itu udara disini jadi polusi, baunya sangat mengganggu kami”, imbuhnya.

Sebelumnya, Asep, warga setempat yang menurut warga Cigowang merupakan salah satu pegawai kepercayaan dari pengusaha pengolahan ikan cue tongkol yang diketahui warga asal Ciapus Bogor mengatakan, bahwa pemilik pengolahan ikan sudah memberikan kontribusi positif untuk warga sekitar dengan membuat jalan lingkungan. Dan usaha yang dikelolanya itu juga sudah mengantongi ijin.

“Dulu disini gak ada jalan lingkungan, bantuan dari desa juga gak ada. Tapi setelah ada pabrik cue pemiliknya langsung nyumbang pembangunan jalan buat warga. Usaha pengolahan cue ini udah ada ijin nya. Dulu juga pernah ditempel di rumah produksinya”, tandas Asep, tanpa menunjukan bentuk perijinanya.

Warga setempat mendesak kepada pemerintah serta pihak berwenang agar menanggapi serius akan keluhan warga dan segera melakukan tindakan tegas. (Raden)