Upaya Menggali Nilai Kearifan Lokal, Majlis Adat Cikundul Ajak Komponen Masyarakat Peduli Adat Budaya

0
400

Cianjur, News Warta Publik – Majelis Adat Gagang Cikundul (MAGC) sebagai salah satu komponen masyarakat yang peduli terhadap pelestarian adat, budaya, tradisi serta warisan leluhur tatar sunda di Kabupaten Cianjur, memiliki kewajiban untuk memberikan gagasan dan masukan dalam upaya menggali kembali kembali nilai-nilai kearifan lokal dan filosofi masyarakat sunda kepada Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cianjur di Jalan KH Abdullah Bin Nuh beberapa waktu yang lalu.

Sebelumnya MAGC melakukan berbagai kajian, penelitian, pertemuan dan sarasehan dengan tokoh masyarakat, ulama, peneliti, ahli sejarah, dan penggiat seni asli sunda.

Dalam penyampaian pokok pikiran ini berkaitan dengan upaya pelestarian nilai budaya sunda sebagai salah satu warisan leluhur kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya masyarakat Cianjur, pokok pikiran tersebut sangat erat dengan filosofi dasar dari Kabupaten Cianjur yaitu Ngaos, Mamaos dan Maenpo yang memang telah diwariskan oleh para pendahulu.

“Kami merasa perlu menyampaikan beberapa pokok pikiran yang berkaitan dengan pelestarian kearifan lokal yaitu nilai budaya sunda khususnya di Kabupaten Cianjur ini,” papar Karatuan Majelis Adat Gagang Cikundul, Susane Febriyati Soeriakartalegawa SH. Senin, (13/8/2018).

Disampaikan beberapa poin penting dalam pertemuan tersebut, seperti perlunya melakukan kajian lebih jauh atau penelitian yang dibiayai oleh APBD Kabupaten Cianjur, membuat regulasi memalui peraturan daerah untuk melindungi situs pra sejarah, situs bersejarah, lapak warisan leluhur, seni asli sunda Cianjur dan simbol-simbol kedaerahan yang memiliki filosofi.

Memahami dan melakukan kaji ulang terhadap desa-desa adat sudah tertuang dalam undang-undang Nomor 6 tahun 2014, khususnya pasal 96 sampai dengan pasal 111 yang memberikan kekhususan pada desa adat yang masih terpelihara di Kabupaten Cianjur.

MAGC pun mendesak kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cianjur dalam mengembangkan budaya cianjur yang memiliki filosofi Ngaos, Mamaos dan Maenpo secara konsisten dan mengurangi ekspos budaya yang bersifat seremonial tanpa landasan filosofi.

Masih kata Susane, Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur sebagai lembaga kontrol kegiatan eksekutif di bidang budaya, wisata dan pendidikan bisa mengimplementasikan undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan budaya dan turut untuk diperhatikan secara sungguh-sungguh.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Dadang Sutarmo menerima kehadiran budayawan Cianjur yang tergabung dalam Majelis Adat Gagang Cikundul untuk menyampaikan perihal pelestarian kearifan lokal ini.

“Kami menyambut baik kehadiran saudara kita Majelis Adat Gagang Cikundul yang melakukan audiensi pada kesempatan ini,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan, kebudayaan Cianjur saat ini disinyalir banyak keluar dari jati diri Cianjur yang seharusnya ditonjolkan dan jangan sampai terkikis. Sehingga kedepannya akan dilakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayan untuk menyampaikan hasil dari audiensi tersebut.

Ini merujuk pada surat edaran yang diberikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayan serta Direktorat Jendral Kebudayaan yang ditujukan untuk Kabupaten Cianjur.[ Red ]

 

Reporter by Andy Djava
News Warta Publik