Aku pancasila…aku indonesia
Aku pribumi…aku orang asing

Kaca pecah
Tembok retak
Bumi mulai tertidur
Melupakan jati diri karena nilai persaudaraan hanya ada pada falsafah untuk kesejahteraan.

Teks proklamasi menjadi fosil yang tersimpan rapih di museum-museum dan galeri kota.
Kain Dwi Warna menjadi kusam
Ketika Fatmawati menjahitnya dengan cinta pada negeri.
Cinta pada Soekarno sang Bapak tercinta.

Jutaan anak-anak masih belum bisa menulis dan membaca karena sarana yang tiada
Aliran sungai deras
Debur ombak membuat hati terbungkam
Kita telah lupa nenek moyang kita adalah bangsa pelaut sejati
Tangguh mendaki gunung
Tahan api dan air racun bergolak menjadi bencana.

Mana topeng yang kau simpan kemarin
Telah berubah menjadi kematian tiba-tiba
Sementara tulang belulang belum terbaca di pijak kaki Bhineka Tunggal Ika.

Mana topengku
Mana topengmu
Mana topeng kita
Jangan pernah duka tak ber-asa lupa semesta.

Segerombolan manusia entah dari mana ia berasal
Membagi-bagikan kue bolu
Tanpa keadilan
Punah kejujuran termakan kemunafikan
Aku
Anda
Kalian tak mampu membuka derai cita-cita kemerdekaan.
Hanya sebatas mimpi
Berbicara pri-kemanusiaan dan pemerataan pembangunan hanya mengenyangkan sekelompok manusia yang mengubah ritme lagu Indonesia Raya
menjadu Aku Kaya di Indonesia.

Segera buka topengmu
Letakkan di meja negeri
Lintasan gema khatulistiwa
Gemah Ripah Loh Jinawi
Menjadi pusar negeri repeh rapih.
Air mata
Menjadi pilu kapan terhapus senja menjadi dunia kemuliaan.

Karya: Ace Sumanta
Bogor, 29 Juni 2019