Jika melihat jasadmu yang kaku. kitab itulah bercerita tentang darah dan sungai-sungai mengalir ke dalam darahmu

energi itulah bergerak merangkak mengikuti jejak takdirNya yang membuka alam sebagai kolam

dari lembaran cerita tentang takdirmu; hanya seutas nyawa berkeliling mencari-cari amal di bulan penuh berkah ini

kesaksian yang selama mengikuti fakta hidup, terurai ke sejumlah firman dalam takdirNya di kolam-kolam penuh kematian dan kehidupan

— entah, sudah kutanyakan dalam tiap doa, apakah kehidupan lebih dahulu merajai kematian?

sebab sebelum takdir hidup dalam kelahiran, lebih dahulu mati sebelum hidup di rahim ibunda

pintu takdir membuka misteri. karena hidup hati saling berkejaran di aliran air kolam yang bening

di air inilah gambaran dirimu putih pucat berpoles takdir. karena dalam perjalanan pulang; kau tidur panjang di ranjang tanah

tiga langkah orang-orang pergi, takdirmu dirundung sepi. karena kesunyian panjang selama jasadmu dirpeluk maut, harta, anak dan istrimu menjadi kenangan

lihat wajahmu di.kolam itu. dalam gambat takdir dirimu tanpa spasi; hanya titik debu yang lenyap bersama angin.

Anto Narasoma

Tirta Bening. 7 Mei 2019