1. Kasus penusukan Wiranto yang disebut dilakukan jaringan teroris ISIS ini jadi pertanyaan besar bagi IPW. Sebab selama ini Wiranto tidak pernah “bersentuhan” dengan kasus terorisme dan bukan target yang sesungguhnya. Nama Wiranto hanya satu kali disebut sebagai “target” dan itu muncul usai pilpres 2019 pasca terjadinya kerusuhan 22 dan 23 Mei. IPW merasa prihatin dengan kasus penusukan ini dan merasa kasihan dengan Wiranto, karena terjadi setelah partai yang dibangunnya tidak lolos ke DPR dan kabinet Jokowi akan berakhir dan kabinet baru akan dibentuk Jokowi. Apa yg tersirat dari kasus penusukan ini hanyalah bahwa ancaman keamanan masih merupakan momok yang menakutkan di negeri ini, dan orang orang nekat masih bergentayangan dan setiap saat bisa menyerang terhadap siapa saja.

2. Kasus ini semakin melegistimasi bahwa terorisme jaringan ISIS ada dimana mana di negeri ini. Tidak hanya di kota kota besar, di pedalaman juga mereka bisa beraksi secara cepat dengan peralatan teror seadanya, sekaligus kasus itu melegitimasi sikap nekat dan sikap siap mati para teroris, yang mereka harapkan bisa ditiru para pengikutnya di daerah lain.

3. Kasus penusukan ini terjadi beberapa hari menjelang pelantikan Jokowi sebagai presiden dan di tengah maraknya ancaman demo maupun isu penolakan terhadap pelantikan Jokowi sebagai presiden, sehingga kasus penusukan Wiranto menambah kehebohan situasi sosial politik di negeri ini. Tentunya kasus ini akan berdampak pada sikap politik Jokowi, baik menjelang pelantikan presiden maupun dalam penyusunan kabinet.

4. Dengan adanya kasus penusukan Wiranto wajar muncul isu isu miring di seputarnya. Tapi percayalah kasus itu tidak akan mengganggu situasi keamanan yang makin kondusif di Indonesia menjelang pelantikan presiden maupun penyusunan kabinet.

Neta S Pane
Ketua Presidium Ind Police Watch