Pakuan pos – Kolam yang berukuran sekitar 45 x 15 M, bagian tepinya diperkeras dengan susunan batu-batu. Lebih menarik lagi air dalam kolam tersebut tidak merembes ke luar atau ke rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Adapun lahan di sebelah sisi utara, timur, dan selatan jauh lebih rendah dari kolam tersebut. Masih terdapat batu cukup besar di bagian tengah ke sisi selatan masih ada dengan keadaannya masih menyembul sedikit dipermukaan air.

Dugaan soal pembuatan kolam itu, dimungkinkan kolam buatan masyarakat masa lalu selain rapih tersusun juga sangat tepat dan strategis. Dulu mungkin juga banyak tanaman dan bunga khas sehingga suasana kolam lebih indah, asri dan menyenangkan dengan adanya lahan kosong berdekatan dengan Situs Mata Air Jalatunda. Kini sudah banyak bangunan rumah penduduk sehingga kesannya sumpek dan tidak indah lagi.

Kedalaman kolam sekitar 150 Cm karena batu yang terdampar di kolam itu masih terlihat disamping airnya bening, oleh masyarakat sekitarnya di pelihara ikan-ikan mas yang ukurannya 2 ekor 1 kg, ada juga nampaknya yang satu ekor 1 kg dengan warna-warni menghiasi kolam Sri Bagenda. Dari cerita masyarakat sekitarnya kolam itu dulunya tempat pemandian istri dan anaknya Sri Baduga Maharaja. Jika benar hal itu, maka akan sangat menarik dan dapat di pelihara dengan baik, tidak dibiarkan seakan tak tersentuh, padahal sudah ada papan kaleng merupakan kawasan/tempat cagar budaya.

Ini tanggung jawab kita bersama untuk tetap dilestarikan. Letak Taman Sri Bagenda berada di Desa Pasir Eurih Kecamatan Taman Sari kabupaten Bogor, Jawa barat. Sebuah bangunan yang melambangkan hidup masyarakat teratur, menjaga lingkungan dan memanfaatkan air mengalir sebagai keseimbangan kehidupan.

Kini untuk menuju ke lokasi tersebut tidak begitu sulit. Menurut pengakuan penduduk setempat banyak pengunjung datang untuk sekedar mencuci muka dan memanfaatkan untuk berwudhu. Ada juga yang mengatakan agar nampaknya muka berseri dan awet muda. Entah dari mana pendapat awal hal itu. Kini Taman Sri Bagenda membutuhkan sentuhan bangunan tambahan agar indah dan asri seperti adanya bangunan gazebo atau Saung Sunda serta adanya galeri terkait dengan Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Wilayah ini sekarang terkenal dengan wilayah industri alas kaki, tidak sebanding lurus dengan perawatan kolam yang bernilai sejarah dan sebagai destinasi pariwisata. Semoga masyarakat bisa menjaganya, Pemerintah Daerah kabupaten Bogor, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) Kabupaten Bogor tidak hanya mendirikan papan kaleng menandakan Benda/Kawasan Cagar Budaya, melainkan mampu merevitalisasi untuk kepentingan sejarah dan pariwisata, serta mampu menyedot pengunjung lebih banyak. Seiring dengan kawasan industri yang cukup maju seyogyanya di barengi dengan taman yang indah karena viewnya Gunung Salak.

Penulis: Rd. Ace Sumanta
Sastrawan, Budayawan