Sukabumi, Pakuan Pos – Tradisi Samenan atau kenaikan kelas dilaksanakan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Sirojul Athfal, kampung Pinanggading RT 15 RW 05, Desa Tamansari kecamatan Cikidang, kabupaten Sukabumi Jawa barat. Senin, (5/7). Kegiatan Samenan berlangsung sejak pukul 08.00 WIB pagi yang rencananya akan dilangsungkan hingga malam, tidak kurang dari 60 siswa ikut memeriahkan acara Samenan tersebut dengan berbagai kreasi pertunjukan.

Samenan merupakan istilah sebagai rasa syukur dan merayakan kenaikan kelas, Samenan bukan asli dari Bahasa Sunda, Istilah tersebut diangkat dari Bahasa Belanda. Dalam bahasa Belanda, kata Samen berarti bersama atau berkumpul, orang tua, siswa hingga warga berkumpul merayakan keberhasilan sehingga istilah tersebut seolah melekat hingga saat ini.

Dalam kegiatan samenan, siswa diwajibkan untuk tampil dengan istilah ngaleseng (pidato/dakwah) dilakukan oleh setiap murid tanpa menggunakan teks. Mereka dengan berani dan hapal menyampaikan pidato melalui dakwah dengan berbagai pesan yang disampaikan dihadapan yang hadir termasuk orang tuanya.

Saat ditemui di lokasi acara, kepala MDTA Sirojul Athfal, Ustadz Abdurahman mengatakan Ngaleseng merupakan salah satu ujian untuk memperlihatkan kemampuan santri dalam berbicara dan berdakwah. “Melatih santri untuk menjadi pemberani dan tidak malu-malu serta biasa berdiri di hadapan orang banyak,” kata Ustadz Abdurahman.

Acara yang didukung oleh para orang tua wali murid ini juga diisi oleh tim Hadroh se-Kecamatan Cikidang. Haflah akhirussanah dan perpisahan kelas 6, sambung Ustadz Abdurahman, merupakan suatu kegiatan penutup dari rangkaian kegiatan belajar mengajar sebagai ungkapan rasa syukur kami dan para santri semoga diberkahkan ilmu-ilmu nya.

“Alhamdulillah kegiatan tahunan ini berkat adanya’ kerjasama yang baik dari para orang tua santri, siswa-siswi madrasah, dan mudah-mudahan ilmu-ilmu yang di dapatkan dapat bermanfaat,” ujarnya.

Lebih lanjut kepala MDTA Sirojul Athfal menyampaikan amanatnya secara khusus, kami atas nama guru-guru madrasah memberikan amanat khusunya kepada para santri lulusan, tetaplah berakhlak yang baik, menjaga sholatnya, agar kelak kalian selalu di berkah kan dalam segala hal.

“Akhir kata, kami atas nama guru-guru madrasah memohon maaf yang seluas luasnya secara khusus kepada semua orang tua wali santri, karena masih banyak kekurangan dan kealpaan dalam belajar bersama putera puteri bapak ibu sekalian, serta terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan. Semoga jalinan silaturahmi ini tetap terjaga. (Adj)