News Warta Publik – “Tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan terorisme, terorisme itu suatu bentuk ekstrimis yang tidak ada tempatnya di dunia ini”, kata Gus Aziz.

Jum’at itu gerimis rintik-rintik membuat suasana menjadi sejuk, itu mungkin yang mendasari Gus Aziz dan beberapa jamaah Sholat Jum’at lainnya berinisiatif pergi ke warung Mas Han hanya untuk sekedar ngopi untu menghangatkan suasana, tentunya setelah Sholat Jum’at.

Ya, warung Mas Han memang sudah menjadi tempat langganan masyarakat setempat untuk ngopi atau hanya sekedar ngumpul dan menitipkan barang jualan.

“Mas Han, saya pesan kopinya segelas, ndak usah pakai gula. Jamaah yang lain biar pesen sendiri-sendiri saja kopinya”, canda Gus Aziz sambil tertawa kecil.

Sambil menunggu kopi, Gus Aziz menyulut sebatang rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam.

“Wah, ndak takut kena gangguan pernapasan Gus akibat banyak merokok?” tanya Mas Seno
sambil bercanda.

“Hehe, saya hanya membantu petani tembakau menafkahi keluarganya Mas Seno,” balas Gus Aziz.

“Loh, maksudnya bagaimana itu Gus?” Mas Seno bertanya kembali.

“Setahu saya ni ya mas, rokok itu merupakan salah satu sumber pendapatan terbesar bagi negara kita. Nah, kalo misalnya saya ndak merokok nih kasian petani-petani tembakaunya. Kalo rokok ditiadakan, terus para petani tembakau ndak punya kerjaan lagi, sampean mau tanggung jawab nafkahin anak istri mereka?” tanya Gus Aziz.

“Loh ya ndak mau Gus, untuk makan keluarga saja saya harus kerja keras cari uang, eh disuruh nafkahin keluarga orang, hehe,” ujar Mas Seno.

“Lah itu sampean paham mas,” ujar Gus Aziz sembari menghisap rokoknya.

Jamaah yang lain pun hanya manggut-manggut mendengar obrolan Gus Aziz dan Mas Seno.

Akhirnya kopi yang yang ditunggu-tunggu datang juga. Gus Aziz dan jamaah lain pun tampaknya menikmati kopi buatan Mas Han itu. Memang kopi di warung Mas Han ini punya rasa khas tersendiri dibanding warung kopi lainnya. Sambil menikmati kopi, Mas Han lalu melanjutkan obrolan.

“Saya baru saja nonton berita di televisi, katanya ada teroris yang menembak jamaah yang akan melaksanakan sholat Jum’at. 40 orang lebih yang meninggal akibat tembakan tersebut, nembaknya pun secara brutal, mirip-mirip seperti game yang lagi maraknya di kalangan generasi muda kita Gus,” kata Mas Han menjelaskan.

“Wah yang bener mas?, saya belum denger beritanya mas,” tanya Gus Aziz penasaran.

“Bener Gus, malah beritanya sedang viral-viralnya kalau kata anak muda zaman sekarang,” jawab Mas Han.

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. InsyaAllah para korban tersebut Husnul Khotimah. Sungguh mulia meninggal pada Sayyidul Ayyam (Hari pemimpinnya para hari) yaitu hari Jum’at, apalagi ditambah meninggalnya di mesjid dan dalam keadaan akan melaksanakan sholat,” kata Gus Aziz.

“InsyaAllah Gus. Oh iya Gus, yang menembak itu bukan beragama Islam Gus, sehingga tidak menimbulkan pandangan negatif beberapa kelompok yang memandang Islam sebagai agama teroris, kan banyak sekarang yang ngomong Islam itu agama teroris dan sebagainya lah,” ujar Mas Han.

Gus Aziz terdiam sejenak sambil tersenyum kecil.

“Bener yang Mas Han katakan, mungkin dengan kejadian ini akan terbukti bahwa Islam itu tidak ada kaitannya dengan teroris, bahkan islam tidak pernah mengajarkan hal yang demikian mas. Namun, kita juga tidak boleh mengutuk umat agama lain, meskipun si penembak tersebut mengklaim dirinya sebagai orang yang percaya terhadap salah satu agama,” ujar Gus Aziz.

“Maksudnya bagaimana Gus?” tanya Mas Han yang masih belum paham dengan apa yang dijelaskan oleh Gus Aziz.

“Begini loh mas, saya yakin bahwa seluruh agama di dunia ini tidak pernah mengajarkan tentang terorisme, bahkan tidak ada tempat di dunia ini untuk para teroris, mereka juga menentangnya. Justru yang perlu kita khawatirkan itu adalah oknum-oknum yang sukanya menebar kebencian, malah mereka yang dapat menumbuh suburkan kebencian antar kaum,” ujar Gus Aziz sambil menikmati kopinya.

Mas Han dan jamaah pun mulai paham dengan penjelasan Gus Aziz.

“Benar juga sampean Gus. Sekarang ini banyak oknum-oknum yang berbicara kebencian dengan dalih agama dan etnik, padahal agama dan etnik merupakan bahan yang paling cepat matang kalau digoreng untuk memantik kebencian.” kata Mas Han.

“Wah sepertinya Mas Han sudah mudeng dengan permasalahan yang ada, apalagi di tahun politik ini ya mas, semua serba fitnah dan hoax, hehe,” tambah Gus Aziz.

“Iya Gus, semoga Indonesia kita senantiasa aman dan dilindungi oleh Allah,” ucap Mas Han.

“Aamiin Ya Allah. Wah karena sudah hampir pukul 14.00, saya mohon pamit dulu Mas Han dan jamaah lainnya, kebetulan nanti mau ke sawah juga, soalnya udah lama saya ndak ke sawah,” ujar Gus Aziz sambil menghampiri Mas Han untuk membayar sekaligus mentraktir minum kopi para jamaah lainnya, kemudian mengucapkan salam dan pulang.

Penulis : M.Owen
Foto : PatronNews