Bogor, Pakuan pos – Masih ingat dengan Mahpud? Dia adalah pengatur arah dari setiap lajur lalu – lintas bagi pengendara roda dua maupun empat yang dulu ada di simpangan depan Hotel Salak dan beberapa titik simpangan jalan di Kota Bogor. Dengan statusnya yang tidak diperjelas oleh stake holder kota bogor, ia senantiasa berjibaku bekerja keras semata tuk bisa menghidupi kehidupan sehari-harinya demi anak-anak serta isterinya. Penghasilan yang tidak layak, bukan ukuran baginya untuk memilih dan tetap terus berjuang ditengah pandemi covid 19.

Sempat santer dalam pemberitaan, bahwa bapak mahpud telah meninggal dunia, namun setelah ditelusuri, ternyata itu merupakan kabar hoax. Lelaki berusia 49 tahun itu menserita sakit parah sejak bulan september 2020. Selama satu bulan terakhir, ia harus menjalani rawat inap dan rawat jalan demi memperjuangkan hidupnya.

Dari keterpurukannya itu, ada sekelompok anak muda yang berinisiatif membantu si juru parkir yang selalu bersikap ramah dan lucu itu, dengan cara menggandeng lembaga donasi ternama yakni Yayasan Kita Bisa Indonesia. Alhasil donasi yang terkumpul telah mencapai kurang lebih Rp. 431.000.000. Uang itu sepenuhnya diperuntukan bagi pengobatan dan kebutuhan sehari-harinya Mahpud dan keluarganya.

Dengan adanya donasi tersebut, bagi Mahpud dan keluarga hal itu merupakan secercah harapan untuk menjalani hidup kehidupannya ke depan.
Namun semangat itu tidak sesuai harapan. Pasalnya, donasi yang terkumpul hampir setengah milyar itu, tidak sepenuhnya sampai ke tangan bapak mahpud.
Pihak yayasan hanya menyerahkan hasil donasi itu ke Mahpud sebesar kurang lebih 30 juta rupiah.

Seketika bapak mahpud dan keluarga tertunduk lesu, karena dana sebesar 30 juta hanya habis untuk pengobatan jalannya, belum beli obat dan kebutuhan sehari-harinya. Karena disaat sakit selama 4 bulan lebih lamanya, Mahpud tidak memiliki penghasilan sama sekali.

Dari dasar itulah, bapak mahpud dan keluarga meminta bantuan hukum ke Kantor Hukum Sembilan Bintang & Partners, guna menuntut keadilan.

“Ini merupakan tindakan tidak manusiawi. Karena bagaimanapun klien kami merupakan subjek penerima manfaat dari sumbangan yang terkumpul melalui yayasan tersebut. Maka seyogyanya lah yayasan menyerahkan semuanya ke pak mahpud guna kebutuhan pengobatan dan kebutuhan sehari-harinya.
Ini tidak! Tanpa memberikan penjelasan yang konkrit dari yayasan kepada pak mahpud, jelas ini dugaan perbuatan yang bersifat melawan hukum (onrechtmatige daad).
Berangkat dari UU No. 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang / Barang, jelas pemanfaatannya semata untuk kesejahteraan bagi yang membutuhkan.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula klien kita ini.
Hal ini sudah tak bisa di tolerir lagi, kami akan sikapi dengan tegas yayasan ini yang diduga telah melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum ini.
Logika nya kalau membantu ya ringankan kondisi klien kami, jangan memberikan beban yang semakin berat. Bukannya sembuh, bisa mati klien kami.
Kami akan buat perhitungan kepada yayasan ini”, Tandas RD. Anggi Triana Ismail, SH, kuasa hukum Mahfud dari kantor hukum Sembilan Bintang & Partner Law Office.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Yayasan Kita Bisa Indonesia, belum bisa dimintai keterangan. (Raden)