NP.Dt. Ompek Gunakan ” RANJI BODONG ” Untuk Kelabui Anak Kemenakan di Suku Bendang

0
374

Simpang Sugiran, News Warta Publik – Penghulu yang seharusnya meluruskan permasalahan dan melindungi seluruh kaum yang ada pada adat istiadat di Sumatera Barat Minang Kabau justru malah sebaliknya. Adu domba diciptakan untuk meraih keuntungan secara pribadi. Hal ini terjadi di salah satu suku Bendang yang ada di Nagari Simpang Sugiran Kec. Guguak Kab. Lima Puluh Kota Prov. Sumatera Barat.

Penghulu yang seharusnya memegang amanah, bahkan dianggap sakral di Suku Minang Kabau yang perlu dijaga. Seperti kata ungkapan di Minang Kabau, Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, syarak mangato adat mamakai”. Segala perbuatan atau pekerjaan hendaknya selalu mengingat aturan adat dan agama, jangan hendaknya bertentangan antara satu dengan yang lainnya”. Begitu tinggi letak atau tatanan adat di suku Minang Kabau di Sumatera Barat.

“Justru malah sebaliknya. Oknum Penghulu NP Dt. Ompek di Suku Bendang telah melakukan hal yang tidak terpuji dan bahkan diduga telah melakukan adu domba antara anak kemenakan di lingkungan suku Bendang”. Seperti yang diungkapkan oleh anak kemenakan kepada awak media.

Ditambahkannya, “Bahkan membuat keputusan seperti MAMBALAH BATUANG/membelah bambu, SABALAH DIPIJAK NAN SABALAH LAI DIANGKEK / sebelah dipijak yang sebelah lagi diangkat. Dengan arti dalam pengambilan sebuah keputusan tidak adil dan bijaksana sesuai dengan fakta yanga ada, yang dianggap oleh anak kemenakan menguntungkan secara pribadi”.

Diaminkan oleh anak kemenakan suku Bendang yang lain (An, Irchan, Ismet, Dayat, Ewin, Alex, Sukri, Endi), kepada wartawan, Selasa (27/11/18) melalui pesawat selluler mengatakan,

“Sabonanyo kami dari anak dan kamanakan sabona malu tajadi hal nan ajak iko (Sebenarnya kami dari anak kemenakan sangat malu dengan terjadinya hal semacam ini)”.

“Tapi demi mengungkit kebenaran atas hak dan kewajiban antara Penghulu dan anak kemenakan, hal ini harus kami ungkapkan, agar generasi Minang Kabau kedepannya terkhusus Suku Bendang mengerti akan silsilah atau garis keturunan. Agar terciptanya silaturahmi antar sanak saudara, dan berkehidupan yang aman dan tenteram kedepannya”.

“Kami dari anak kemenakan Suku Bendang yang berada di Nagari Simpang Sugiran meminta maaf kepada para Sesepuh Adat serta pemerintahan Nagari atas kelancangan kami dalam mengungkap kebenaran. Hanya semata-mata untuk meluruskan tatanan adat istiadat dan garis keturunan yang berhak atas Warih Pusako /Waris Pusaka yang selama ini dianggap tabu”. Jelas anak kemenakan.

“Yang tidak bisa kami terima dan lebih menyedihkan atas perlakuan NP Dt. Ompek dengan ditunjukkannya “RANJI BODONG” saat rapat penyelesaian masalah antara anak kemenakan tertanggal 13 Oktober 2018 bertempat di kediaman Mak Saedar yang dihadiri oleh Penghulu Dt. Marajo Junjungan, Penghulu Dt. Marajo Nan Elok dan juga dihadiri oleh Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Dt. Damuanso. Ranji yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan persellisihan dan untuk panduan terakhir dalam penyelesaian persoalan di dalam kaum, justru malah sebaliknya. Yang lebih ironis, perselisihan yang terjadi antar anak kemenakan sampai pelaporan ke POLISI”.

Menurut Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN), Ranji yang ditunjukkan oleh NP. Dt. Ompek sebagai Penghulu di Suku Bendang adalah cacat secara adat dan di mata hukum.

“Benar, pada saat rapat penyelesaian permasalahan antar anak kemenakan tertanggal 13 Oktober 2018 yang pada saat itu saya selaku Ketua KAN hadir dan menyaksikan sendiri, bahwa Ranji tidak ada ditandatangani oleh siapapun sesuai dengan kapasitas di adat”. Jelas Dt. Damuanso sebagai Ketua KAN. [Teldi]

 

News Warta Publik