Cianjur, Pakuan pos – Kuda kosong masih jadi ikon setiap kali digelar gelaran seni dan budaya di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Disebut Kuda Kosong karena memang tidak ada penunggangnya. Namun, kuda tersebut seperti menahan beban berat.

Konon, kuda tersebut ada yang menungganginya tapi tidak bisa terlihat secara kasat mata. Berdasarkan data dari berbagai sumber yang terhimpun, konon tradisi budaya Kuda Kosong sudah ada sejak zaman dulu. Kuda Kosong selalu digelar pada setiap upacara kenegaraan Cianjur.

Salah satu warga Cianjur, Yayan mengatakan atraksi kuda kosong biasanya selalu ditampilkan dalam setiap acara kenegaraan. Seperi; ulang tahun Kabupaten Cianjur, dan hari ulang tahun kemerdekaan republik Indonesia.

“Empat tahun yang lalu tepatnya 17 Agustus 2016, saya melihat langsung atraksi seni kuda kosong diacara HUT RI pas waktu ada pawai karnaval,” kata Yayan. Sabtu, (22/8/2020).

Kalau untuk tahun ini. Lanjutnya, mungkin karena pandemi covid-19 jadi belum melihat lagi. “Tahun ini belum ada lagi, mungkin karena covid-19. Biasanya atraksi kuda kosong paling ditunggu-tunggu oleh warga masyarakat Cianjur,” ujarnya.

Ada beberapa keterangan soal mengapa kuda yang tampak kosong tapi tampak berat itu. Namun semua keterangan itu mengarah kapada kepercayaan masyarakat, bahwa kuda tersebut sebenarnya ditunggangi “seseorang” yakni sesepuh Cianjur yang sudah tiada, Eyang Suryakencana.

Sebagian masyarakat percaya, Eyang Suryakencana, turut hadir dalam arak-arakan tersebut, namun tidak bisa dilihat oleh sembarang orang.

Sementara keterangan lain menyebutkan, kuda kosong diadakan, untuk mengenang perjuangan Bupati Cianjur RA Wiratanu, seorang Dalem Pamoyanan R.A.A. Wiratanudatar II. Dalem ini, dalam sejarah Cianjur dikenal sakti mandraguna serta pemberani.

Ketika Bupati lainnya tidak berani melawan Mataram yang meminta Cianjur menyerahkan upeti seperti beras, lada, dalem Pamoyanan berani melakukannya. Keberaniannya tersebut ternyata mendapat apresiasi dari Kanjeng Sunan Mataram dengan diberikannya hadiah seekor kuda jantan, untuk pulang dari Mataram ke Cianjur.

Semangat Dalem Pamoyanan itu juga menginspirasi kepada rakyat Cianjur untuk melakukan perang gerilya terhadap Belanda di kemudian hari, hingga Belanda mundur ke Batavia.

Betulkah kuda kosong itu “ditunggangi” leluhur Cianjur? Walohualam bissawab.
Yang jelas, ketika kuda kosong beraksi, masyarakat yang kebetulan menyaksikannya, seakan tersihir. Terpaku, dengan mata tak mau lepas dari sang kuda dan pengawalnya. (Adj)