Pakuan pos – Suatu ketika seorang Sufi di puncak gunung , bertapa dalam sebuah gua selama berbulan-bulan. Ia begitu terkesan dengan kisah pertemuan para pertapa dengan Tuhan di tempat itu.

Segala do’a dan puja-puji ia lantunkan dalam keheningan. Hingga suatu ketika ia seakan mendengar sesuatu berbisik tanpa suara dalam batinnya.

“Jika kau ingin menemui-Ku, bukalah matamu. Temui sekarang Aku di luar.”

Maka ia segera membuka matanya yang lama terpejam dalam kekhusyukan. Ia mencoba bangkit dari duduk silanya. Pelan ia menuntun tubuhnya yang melemah karena lama berpuasa.

Sore telah tiba di luar gua. Langit telah bersemu jingga, namun semua masih tampak jelas.

Maka ia mencari-cari berkeliling dengan mata penuh harap. Ia mencari sosok Tuhan yang tadi berbisik. Namun tak ada siapa.

Ia terus menunggu dengan mata tetap awas. Takut Tuhan berkelebat hadir dan menghilang tanpa ia sadari. Tapi semua tetap sama. Tak ada siapapun. Hanya ada langit indah dan lembah yang hijau mengagumkan.

Gunung-gunung berselimut salju. Suara deru angin menerpa dinding. Tak ada suara lain.

Lama ia menatap semua keindahan itu. Sampai tiba-tiba air matanya mengalir penuh keharuan. Seketika ia tercerahkan dan bertemu Tuhan yang begitu lama dicarinya.

“Ya Tuhan, aku telah mencari napasku sendiri kemana-mana. Aku seperti ikan yang berenang ke sana kemari mencari air. Bagai burung yang terbang mencari angkasa.” Isaknya dalam rasa penyatuan tak terlukiskan.

Sheikh wihdatul wujud