Cigombong, Pakuan pos – Paska bencana banjir bandang yang melanda kawasan Gunung Salak, kondisi alam yang awalnya indah daan asri kini tampat porak poranda. Tampak jelas juga dikejauhan, puncak gunung salak terlihat adanya retakan yang diduga sebagai pusat bencana.

Abah Manta, salah satu kasepuhan warga Kampung Palalangon menuturkan, bencana awal terjadi pada tahun 1990. Dan menurut prediksi para tetua setempat akan terjadi bencana susulan, yang nyata terbukti terjadi pada senin (21/9/2020) lalu, yang memporak porandakan alam serta pemukiman warga di wilayah Kampung Palalangon, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong serta Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Ciicurug, Kabupaten Sukabumi.

“Terakhir kajadian longsor di gunung baheula taun salapan puluhan. Ceuk kolot harita bakal aya deui kajadian susulan. Bukti kalayan nyata, ayeuna buktina”, tutur Abah Manta dalam dialek sunda yang artinya “Terakhir kejadian longsor di gunung tahun sembilan puluhan. Kata orang tua saya nanti bakal terjadi bencana susulan. Terbukti dan nyata setelah tiga puluh tahun sekarang terjadi lagi”.

Kasepuhan Palalangon yang meski usianya sudah masuk kepala delapan namun masih tampak gagah dan kekar itu, kejadian jadian bukan sekedar akibat kehendak Sang Pemilik Alam Semesta. Namun semua itu diakibatkan juga oleh ulah manusia manusia serakah yang haus akan kekuasaan, hingga alam pegunungan sebagai penyangga alam pun ingin dikuasainya.

“Nya sing areling we, ulah nyalahkeun ka ku kawasa tina kajadian ieu. Urang nu jadi umat kudu sadar, kana tingkah polah laku lampah urang nu sadar teu sadar geus ngarusak alam. Ayeuna giliran alam nu ngabales kalakuan urang”, tandas Abah Manta yang artinya, “Ya kita sebagai manusia harus sadar terhadap tingkah polah dan kelakuan kita, yang diakui atau tidak selama ini telah merusak kelestarian alam. Sekarang giliran alam yang membalas atas kelakuan kita”. (R. Bhenz)