Kesbangpol Mubar Nilai Konflik Pabrik Tebu Hanya Miskomunikasi

0
278

Laworo, News Warta PublikKepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Muna Barat (Mubar) Laode Andi Muna menilai konflik masyarakat dengan pemda Mubar terkait masuknya perkebunan tebu di kecamatan wadaga hanyalah kesalahan komunikasi antara pemerintah tingkat bawah dengan masyarakat sehingga timbul kegaduhan yang berlebihan.

“Kalau menurt saya konflik pabrik tebu ini hanya mis komunikasi.Tidak ada masalah sebenarnya,apa yang dilakukan pak bupati semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Masalahnya adalah komunikasi pemerintah tingkat bawah tidak mampu memberikan pemahaman kepada masyarakatnya”,terangnya saat di temui awak media,selasa (11/9/2018)

Menurutnya ketakutan masyarakat wadaga saat ini adalah tanah mereka yang di kelolah selama ber pulu-puluh tahun akan dirampas oleh perusahaan. Namun Andi Muna, menanggapi berbeda dan tidak seprti yang di fikirkan.Kata dia lahan yang dimasuki Perkebunan tebu ini adalah kawasan hutan,justru sebenarnya dengan pabrik ini dapat menyelamatkan masyarakat dari kepemilihan tanah yang selama ini di olah secara ilegal menjadi legal walaupun mereka beranggapan bahwa itu tanah mereka sejak dulu.

“Jangan lupa bahwa ada surat keputusan menteri kehutanan tentang HPK kurang lebih 4000 hektar. Disitulah kemudian bupati melakukan langkah-langkah dan menurunkan status kawasan kemudian didalam kawasan itu sebenarnya pemda berupaya menyerahkan 20 persen dari jumlah itu untuk di kembalikan kepada masyarakat”,terangnya.

Andi juga mengklarifikasi isu yang berkembang bahwa Pemda telah membohogi masyarakat dengan berita acara yang di tanda tangani bersama masyarakat wadaga tahun 2015 silam.Inti perjanjian tersebut adalah setelah penurunan status kawasan selesai makan pemda bersama masyarakat akan kumpul bersama untuk membicarakan peruntukan penurunan status kawasan tersebut.

“disitulah miskomunikasinya , yang menjadi hak masyarakat selama ini akan menajdi milik masyarakat. Dulu kan hanya sebatas mengukur dan itu di ukur bukan untuk menguasai sebenarnya hanya mengukur batas-batas.Nah terkait itulah, dulu saya panggil mereka di kantor untuk membicarakan maslah itu,tapi ada kepala desa yang tidak sempat hadir dan disitulah tidak ada titik temu”,terangnya.

Olehnya dalam waktu dekat ini Kesbangpol akan turun dilapangan untuk melakukan mediasi sekaligus memberikan pemahaman dan mencari solusi yang tepat dalam hal mengantisipasi konflik yang berkepanjangan.

“Dalam waktu dekat ini kita akan turun lapangan melakukan mediasi dan memberikan pemahama kepada masyarakat serta mencari solusi yang tepat.Saya kira kalau sudah ada titik temu konflik ini tidak akan bekepanjangan”,pungkasnya.

Untuk di ketahui sejauh ini masyarakat wadaga sudah tiga kali melakukan aksi demontrasi penolakan pabrik tebu tersebut,bahkan mereka juga mengacam akan menduduki kantor DPRD Mubar.

Menaggapi hal tersebut salah satu Pemuda desa Kampani Kecamatan Wadaga Akhir Sanjaya menilai bahwa gerakan demontrasi yang dilakukan masyarakat wadaga dalam hal menolak masuknya perkebunan pabrik tebu di wilayah tersebut merupakan langkah yang baik.

“Langkah yang baik itu”,singkatnya melalui Watshap.

Di tanya soal apakah pergerakan yang selama ini di tumpangi kepentingan politik ?Akhir Sanjaya menjawab, dari awal sudah ragu, tapi entah di ragukan apa, tapi dasarnya ia malas membahas soal itu karena tidak punya kepentingan didalam.

“Malas eee, Nda ada kepentinganku”,pungkasnya.[ Red ]

 

Kontributor by Laode Pialo
News Warta Publik

IliIlustr google