Pakuan pos – Miris, sadis, ngilu dan linu membaca kisah seorang kepala sekolah dipukuli oknum orangtu sisiwa. Sebelumnya oknum orangtua siswa menembakan senjata di luar ruangan sekolah. Suara ledakan menyebabkan warga sekolah berhamburan keluar. Benarkah terjadi demikian? Sungguh dunia pendidikan kita sudah terjungkal, terbalik maksud saya.

Kisah pilu dan ngilu ini menimpa Kepala SMAN 10 Tanjab, Jambi bernama Bapak Lesimen. Ia dipukuli, dilempari batu bata dan dihantam pakai kayu bekas tiang bendera pramuka. Setelah puas melakukan intimidasi di sekolah, orang tua siswa tersebut, mengacungkan pistol ke kepsek sambil berucap “Jika dalam 30 menit HP tersebut tidak dikembalikan, awas.. akan kutembak kau”.

Subhanallah, kiamat sudah dekat. Kemarin guru digunduli, terbaru guru dipukuli oleh tiga anak didiknya sampai luka berat. Info terbaru kini orangtua malah menembakan senjata dan menodongkan senjata api pada seorang kepala sekolah. Orang utan, orangtua maksud Saya begitu tega menodongkan senjata pada seorang kepala sekolah.

Tulisan terkait Susur Sungai Saya katakan guru diperlakukan bagai begal motor. Kini ada orangtua berperilaku bagai begal, masuk sekolah dan menodongkan senjata api. Sungguh tak elok dan diluar nalar kewarasan manusia pada umumnya. Mana mungkin orangtua yang menitipkan anaknya dididik di sekolah, saat dididik malah ditodongi senjata.

Beruntung ada PGRI yang terlibat memediasi dan unsur lannya. Kita berharap masyarakat dapat menghargai otomomi sekolah dalam menegakan sebuah tatatertib. Sungguh sulit kita memafkan oknum orangtua, preman, LSM, Ormas dan oknum lainnya saat memperlakukan pendidik dengan kasar dan intimidatif. Guru, kepsek memang punya banyak keterbatasan, Ia bukan Dewa dan Malaikat. Stop kekerasan pada mereka.

Sebagai pendidik di SMA Saya pun pernah mengalami hal yang sama. Sejumlah preman sekitar 7 orang mengintimidasi dan membentak dengan bahasa binatang. Mereka berusaha menaklukan Saya karena Saya berusaha menjaga kehormatan dan kedaulatan sekolah. Saya punya prinsip sekolah harus “merdeka” dari intimidasi dan kekerasan dari pihak mana pun. Premanisme memang harus dibasimi. Termasuk tindak premanisme kepada guru.

Pemerintah, pemerintah daerah, Disdik, organisasi profesi guru dan dewan pendidikan jangan tidur dan ngorok saat ada guru yang dijholimi. Guru adalah aparatur negara, abdi negara dalam bidang pendidikan. Ia bagian dari negara, Ia harus dilindungi. Kepala sekolah yang mendidik, menegakan aturan demi anak didik tak sepantasnya mendapatkan todongan senjata. Orangtua radikal, brutal harus dipenjarakan, agar tidak makin gila.

Sebaliknya para guru, kepala sekolah harus makin hati-hati dalam berkomunikasi, melakukan pendekatan pada setiap anak didik. Setiap anak punya keragaman, latar belakang dan kondisi keluarga yang berbeda. Keluarga yang sejahtera, harmonis dan edukatif tidak akan melakukan kekerasan pada guru. Sebaliknya keluarga yang bermasalah biasanya rawan dan rentan melakukan kekerasn pada guru. Atau bisa juga orangtua sok pejabat atau sok tokoh lokal, jadi bertindak lebay.

Masalah di sekolahan bisa lahir karena ke dua belah pihak. Guru yang tak kompeten mendidik anak dan orangtua yang lebay. Orangtua bermasalah bertemu dengan guru bermasalah. Guru tidak ramah anak dan orangtua kelewat ramah anak. Orangtua yang lebay memanjakan anak karena sibuk tak mampu mendidik dengan baik. Guru jadi korban menimpakan rasa bersalahnya.

Mari kita lawan setiap kelebayan orangtua dan siapa pun yang merusak kedaulatan sekolah. Kalau sekolah kedaulatan dan marwahnya sudah runtuh, mau berharap pada siapa lagi perbaikan generasi bangsa kita. Plus para kepala sekolah dan guru teruslah belajar dan memperbaiki layanan pendidikan. Anak adalah anak, mereka adalah titipan Tuhan yang harus benar-benar diperhatikan secara utuh. Konsentarsi dan focus mendidik mereka. Jangan lalai!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
Ketua Pengurus Besar PGRI