Pakuan pos – Fenomena Covid-19 yang terjadi di Indonesia berdampak besar pada tatanan ekonomi rakyat, tentunya juga pada “kami” para seniman tradisi. ketidakpastian kapan dan bisakah “kami” para praktisi kembali manggung dengan tenang tanpa dikejar oleh tagihan-tagihan, bayaran, dan rengekan anak-anak yang harus tumbuh kembang dengan asupan gizi yang baik sangat menguras Hati, sedangkan negara butuh anak-anak tangguh dan kami sedang mempersiapkan mereka, tapi ternyata sementara ini (amin yra) kondisi tersebut tidak dapat kami penuhi.

Kami ingin bertanya kepada yang terhormat, kapan kami bisa diijinkan kembali tampil manggung?
Jawabannya mungkin yang keluar saat ini adalah: “nanti kalau sudah aman..”

Pertanyaannya, kapan kondisi kembali aman? Apakah menunggu obat, atau vaksin? Lalu sampai kapan?
indikator aman seperti apa yang terhormat?

sedangkan sektor lain sudah di ijinkan
untuk beraktifitas dengan new normalnya. Pasar, Pabrik, mall dan lain-lain. “Kami siap kok mengikuti prosedur kesehatan layaknya mereka yang sudah mendapat ijin”.

Contoh saja ya buat yang terhormat, pasar setiap hari orang berinteraksi secara kontinyu, bertransaksi langsung, kontak fisik langsung, media uang dan barang dari tangan ke tangan berpindah langsung.

Pabrik aktifitasnya Hampir sama, interaksi antara karyawan dengan karyawan pastinya tidak lepas dari kontak fisik.

Mari kita hitung di kabupaten Bandung saja berapa banyak Pabrik, Pasar, mall, mini market, Pasar tumpah dll. Apakah sekarang pengawasannya masih kuat? Saya yakin tidak seperti waktu heboh-heboh Nya dulu pertama kali virus mewabah.

Kami tidak buta, kami melihat betapa setiap hari begitu banyak aktifitas ekonomi kembali bergeliat…
Tapi tidak dengan kami
para pelaku seni tradisi,
kami masih bersabar menunggu ijin dari yang terhormat.
apakah kami cemburu? ya..!! kami sangat cemburu… amat sangat.

Yang kami hormati para pengambil kebijakan…
kami berterima kasih atas bantuan sembakonya, Alhamdulillah cukup untuk 1 Minggu.
Tapi saat ini kami sedang berjuang dari tetangga ke tetangga, dari warung ke warung untuk sekedar bisa makan Hari ini,
Tapi hidup kami bukan hanya untuk makan, hidup kami bukan hanya untuk sekedar itu saja, kami merasakan gempa dahsyat saat token listrik di rumah kami berbunyi.
kami menggigil ketika anak kami berkata bahwa daftar ulang harus ada esok hari..
kami menangis saat surat tagihan digantungkan depan pintu.

Jangan katakan kami harus usaha lain, kami sedang berusaha terus ko sampai saat ini, dan berusaha tidak merepotkan yang terhormat dan tidak mengemis pada kalian.

keahlian kami profesi kami inilah andalan kami, kami dibayar saat kami telah pentas/manggung.
5 Bulan bukan waktu yang sebentar,
5 Bulan semua jadwal manggung kami dibatalkan.
5 Bulan telah banyak yang terjadi dirumah kami.

Oh iya, yang terhormat adalah orang-orang pintar yang bisa menguasai situasi dan kondisi..
tolong atur secara profesional, bagaimana kami bisa bertahan ditengah kondisi ini.
Kami iri dengan mereka yang bisa kembali bekerja.
5 bulan kami sudah bersabar..
5 bulan kami menahan malu..
Kapan kami di ijinkan kembali berkarya?

Oh iya, seniman tradisi pelaku seni tradisi itu banyak loh. Dari lingkung seni Jaipong, upacara adat, Wayang golek, degung dan lain-lain.
sama ratakan ya… belom sodara-sodara kami dari kelompok hiburan modern…

Yang terhormat,
Sampaikan salam buat para wakil kami semoga mereka sehat selalu dan diberikan panjang umur agar dapat menyuarakan dan mewakili perasaan kami, kami percaya bahwa perjuangan dulu bersama kami mempunyai ikatan emosional.

Akhirnya kalau kata “kami” disini tidak mewakili kalian para pelaku Seni, abaikan saja.. dan maafkan “saya”

Salam hormat,
“Kami” atau “saya”
Pencari nafkah dari seni