Bandung, Pakuan pos – Untuk memperingati hari kemerdekaan lahirnya bangsa Indonesia dan mengenang jasa dan pengorbanan para pejuang pendahulu pendiri bangsa, Padepokan Ajar Padang, mengadakan tasyakur budaya, pada tanggal 16 Agustus 2019 malam.

Pendiri padepokan, Aki Rawayan mengatakan pelaksanaannya sengaja dilaksanakan menjelang tengah malam, sebab itu moment pergantian waktu menjelang pagi tanggal 17 Agustus, supaya lebih khusyuk. “Kita berdo’a dan mengheningkan cipta dalam mengenang jasa leluhur dan para pendiri bangsa,” kata Aki Rawayan. Jum’at, (16/8)

Acara tersebut diisi dengan tawasulan dan do’a serta pengheningan diri, yang dipimpin oleh Dedi Saputra, seorang budayawan sekaligus seniman lukis dan seniman patung dari daerah Melong, Cimahi Selatan. Acara juga dihadiri oleh pemerhati budaya, Vicky J Alipradja, dan pematung Yoyo Rancah, yang berasal dari Desa Sindang, Rancah, Ciamis.

“Tasyakuran seperti ini harus dilestarikan untuk mengenang leluhur dan para pendiri bangsa. Supaya generasi penerus tidak lupa dengan leluhur atau ‘pareumeun obor’ kalau dalam istilah bahasa Sunda,” ujar Vicky J Alipradja.

Aki Rawayan menerangkan, karena ini acara budaya, dalam acara tersebut tersedia seperangkat sesajen, ada kelapa hijau dan makanan lainnya. “Banyak salah faham dengan adanya penyajian sesajen.

Masih kata Aki, Sesajen itu artinya ‘saaji/saajen’, jika dalam bahasa Indonesia satu nilai, satu harga, supaya bisa menghargai antar sesama. atau sesajen juga berarti, ‘sesakeun anu sejen’, artinya sisakan untuk orang lain, sebab selesai acara hidangan yang tersedia dibagikan kepada para peserta tasyakuran untuk disantap bersama, bukan disantap oleh yang lain,” terang Aki Rawayan.

Ditempat yang sama, budayawan Dedi Saputra, menambahkan pada acara itu juga dibukakan ‘Payung Agung’. Sebenarnya ini payung biasa, yang digunakan dalam upacara adat. Namun dalam hal ini dimaksudkan sebagai simbol membentangkan harapan dan cita-cita, serta untuk memayungi atau melindungi rakyat kecil.

“Sebab dalam bahasa Sunda, pejabat negara itu disebut dengan ‘papayung agung,” jelas Dedi Saputra.

Kenapa disebut seperti itu?. Lanjut ia, karena tugas pejabat negara adalah mengayomi, melindungi dan memayungi harkat dan kepentingan rakyat kecil. “Bukan hanya mengurus urusan kepentingan pribadi,” tukasnya. (VJA/Red)