Sukabumi, Pakuan Pos – Kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para pahlawan kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari tanah air tercinta.

Dalam catatan sejarah negeri ini, peran para pejuang telah memainkan peran tidak kecil, baik pada masa Indonesia berupaya menggapai kemerdekaan dari penjajahan Belanda, maupun saat mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan dari agresi Belanda.

Demikian dikatakan ustadz Aep tokoh agama setempat sekaligus sesepuh di kampung Bojong Menteng RT 025 RW 006, Desa Palasari Girang, kecamatan Kalapanunggal kabupaten Sukabumi Jawa barat, saat ditemui di kediamannya.

Keberadaan petilasan makam sepuluh di kampung Bojong Menteng mungkin tidak banyak orang yang tahu mengenai sejarah dan ada peristiwa apa di lokasi tersebut hingga berdiri monumen, di sisi kanan dan kirinya terdapat makam yang menurut warga sekitar, makam para pejuang Kemerdekaan republik Indonesia pada masa penjajahan Belanda.

“Ini petilasan makam sepuluh, pada tahun 1947 berdasarkan apa yang saya dengar dan ketahui dari orang tua saya (kakek-red) waktu itu disini terjadi peristiwa hebat, bahkan serentetan tembakan terdengar bahkan sampai aksi pembakaran, dan banyak korban bergelimpangan pada masa perang kemerdekaan, hingga banyak yang gugur, diantaranya sepuluh pejuang yang di makamkan di sini, dari sepuluh itu sembilan orang tentara/prajurit TNI dan yang satunya kyai,” kata ustadz Aep kepada wartawan. Sabtu, (18/9/2021) siang.

Pada tahun 1964 ada instruksi dari kodim bahwa semua pahlawan harus dimakamkan di taman pahlawan, dan pada waktu itu semua jasad yang di makamkan disini dipindahkan, kalau tidak salah ke nyomplong Sukabumi. “Tapi atas saran dan persetujuan petilasan makam sepuluh tetap harus ada, itu semua untuk mengenang dan bagian dari tonggak sejarah agar supaya anak cucu kita, generasi muda khususnya mengetahui sejarah, kita tidak bisa menikmati kemerdekaan, kalau bukan jasa para pejuang,”ujarnya.

Pantauan Pakuan Pos saat berada di lokasi petilasan, akses menuju ke lokasi kompleks makam sepuluh bisa dilalui dengan mudah oleh kendaraan, baik roda empat maupun roda dua. Di depan, sebelum masuk ke area petilasan, berdiri gapura bertuliskan ‘petilasan makam sepuluh’. Namun sangat disayangkan di sekitar monumen petilasan, terkesan tidak terawat dan terbengkalai.

“Dulu sempat ada perbaikan untuk di pinggirnya dan pemasangan paping blok tahun 2016 lalu, tahun kemarin sempat ada kabar mau ada pemasangan pagar, namun sampai saat ini belum ada realisasinya. Mudah-mudahan kabar tersebut bukan hanya Wacana, tapi ada aksi nyata,” harapnya.

Senada dengan apa yang disampaikan ustadz Aep, tokoh pemuda setempat Ruli Sasmita mengajak kepada warga masyarakat untuk bersama-sama bisa merawat, menjaga, dan berjuang dalam mengisi kemerdekaan ini.

“Petilasan makam sepuluh ini adalah aset, ketika kita bersama-sama bisa mengelolanya dan itu bisa dibayangkan, infrastruktur jalan sudah bagus, tentunya kalau semua terkelola dengan baik bisa meningkatkan ekonomi masyarakat disini,” kata Ruli, yang juga merupakan founder di Kiniku Trans.

Pada tahun 2007. Masih kata ustadz Aep, pada waktu pak Margono masih menjadi danramil Kalapanunggal beliau berpesan, ini petilasan bisa diperhatikan dan diketahui oleh semua, karena ini bukan hal yang kecil. Dulu di lokasi petilasan terdapat musholla dan kolam air, para pejuang yang gugur di sini bukan cuman dari Sukabumi.

“Ada yang dari Cianjur, Jasinga dan Bojong genteng. Untuk nama-namanya tertulis dan bisa dilihat, saya catat juga di buku,” pungkasnya. (Adj)