Bogor, Pakuan pos – “Saya sangat banyak menikmati keindahan dan kenyamanan disini. Selain melihat alam, seperti perkebunan teh, hutan yang masih asri banyak satwa dilindungi, juga senang bisa bergabung dengan masyarakat mengikuti lomba permainan tradisional,” kata Wisatawan asal Jerman Omar Badkhel.

Hal senada diungkapkan Baghwan Singh Lakbir Singh pengunjung asal Malaysia yang bergabung bersama ratusan mahasiswa Indonesia di dalam Halimun Youth Camp 2019 ini. “Tentu saja saya menikmati keindahan wisata alam disini, mulai dari wisata konservasi lingkungan, bermain air terjun, semoga tetap lestari,” katanya.

Saking antusiasnya dengan keindahan ‘surga tersembunyi’ di pelosok Kabupaten Bogor ini, mereka tak menggubris adanya aktifitas gempa bumi berkekuatan magnitude 4.0 yang terjadi satu hari sebelumnya. Sebagaimana telah di informasikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tercatat 87 kali gempa tektonik sejak 10-23 Agustus 2019 yang berpusat di Sukabumi dan Nanggung, Bogor.

Apresiasi bagi warga sekitar lereng Gunung Halimun, tepatnya Desa Wisata Malasari, Nanggung, Kabupaten Bogor, meski dibawah ancaman bencana namun tetap konsisten mengimplementasikan konsep ekowisata.

Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Sabtu-Minggu (24-25/08/2019), saya sengaja bertandang kembali ke daerah yang sudah 11 tahun (2008) tak dikunjungi dengan tujuan kemah ceria (kemcer) juga kebetulan ada giat Halimun Youth Camp (Kemah Anak Muda) dalam rangka menduniakan Kabupaten Bogor melalui Desa Wisata Malasari.

Nyaris tak ada perubahan dari segi lingkungan, hutan, terasering 1001 undak sawah (ada hanya penataan) objek wisata yang dulu masih sepi kini menjadi ramai dan area obyek wisatanya lebih tertata.

Yang saya kagumi adalah kearifan lokal masyarakat sekitarnya yang perlahan sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam Hutan Gunung Halimun. Saat memasuki hutan rumahnya Owa Jawa dan ratusan spesies burung, di jalur hampir tak ditemukan sampah sama sekali.

Padahal, tingkat kunjungan hampir setiap akhir pekan lumayan ramai bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, baik keluarga maupun koporate. Tak cukup memang dua hari satu malam mengeksplore desa yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Lebak, Banten dan Sukabumi, Jabar ini. (YH)