Kupandang senja dari balik jendela
lembayungnya terkadang semerah saga
redup,…perlahan surut
menjemput gelap
bukan gelap yang pekat bak jelaga,
tapi gelap yang melelapkan sejuta kelelahan

Kecintaanku memandang senja dari balik jendela
cukup di balik sebuah batas
karna terlalu dekat sinarnya akan menyilaukan
merusak pandangan

seringkali senja menjadi bias
kalut pada liku nadi kehidupan
goyah melangkah
sulit mengakar
meski bibir masih teguh mendoa

Aku lebur…,sungguh luluh
bersama aliran anak sungai di kedua kelopakku
mungkin lelah ku mengeja nama laksana doa
telah membukit rindu-rindu yang bisu
menjadi rahasia kalbu
dengan Sang Pemilik Kerinduan

Senja…
kupandang kau dari balik jendela
bersama doa-doa yang membayang di angkasa.
Cahaya-Mu kutatap terlihat jauh dari peraduan tafakurku.
Esok kan ku dekati cahaya itu, walau berjalan tertatih berpakaian lusu.
Pakaian berlumur dosa dan kehinaan hamba-Mu.

Dibalik jendela tafakur dan kerinduanku
Dibalik jendela Munajat dan pengharapanku
Di balik Jendela ku mengadu memohon ampunan-Mu
Dibalik jendela semoga Cahaya-Mu menerangi Jiwaku.
Cahaya di atas Cahaya.

Penyair pejalan sunyi
Ki alit pranakarya