Majalengka, Pakuan pos – Innalillahi wainnailahi rojiun.. Dunia wartawan kembali berduka. Menyusul berpulangnya salah seorang wartawan senior asal Kabupaten Majalengka, Hasan Ma’rif kepangkuan ilahi rabi akibat penyakit ginjal yang dideritanya.

Sosok yang dikenal dekat dengan semua kalangan, cerdas, bijaksana, kritis, dan sederhana itu meninggal pada Selasa (23/7/2019) pukul 05.00 WIB.

Almarhum wafat di kediamaanya, di lingkungan Sukajaya Kelurahan Cijati Kecamatan/Kabupaten Majalengka. Beliau meninggalkan dua orang anak yang masih menimba pendidikan dan satu orang isteri.

Di rumah duka, nampak para pelayat dari berbagai kalangan berduyun-duyun berdoa agar beliau diampuni segala dosanya, diterima iman-islamnya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahaan.

Di rumah duka hadir ratusan warga setempat, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata H Gatot Sulaeman, seniman, budayawan, insan pers, keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Majalengka, keluarga besar Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon, serta para petaziah dari berbagai kalangan.

Semasa hidupnya almarhum aktif di dunia wartawan, seniman, budayawan dan pendidikan. Sejak di jurnalis, kang hasan, biasa disapa, pernah menduduki jabatan sebagai wartawan Pikiran Rakyat (PR), redaktur pelaksana HU.Mitra Dialog (HU.Kabar Cirebon), Manager Litbang HU Fajar Cirebon, dan redaktur koran lokal Majalengka Sinar Media.

Di dunia seniman, bergelut di Dewan Kesenian dan Kebudayaan Majalengka (Dekma). Di bidang pendidikan pernah mengajar di Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi dan Ponpest Kebon Jambu Ciwaringin Cirebon. Di organisasi kewartawan aktif sebagai pengurus PWI Majalengka periode 2018-2021.

Sebelum berpulang, almarhum sempat menjadi moderator kegiatan dialog kebangsaan meski dalam kondisi sakit. Jauh sebelum itu, almarhum sempat mengisi materi tentang kehidupan wartawan. Pesan beliau saat itu kepada para kuli tinta, agar dalam menyajikan berita harus menonjolkan sesuatu yang berbeda pada umumnya.

Terutama ketika merangkai berita jangan hanya berkutat pada penulisan berita straight news atau lebih populer dengan rumus 5W+1H. Tapi harus diubah dengan pola penulisan berita mendalam (indepth report) dan berita feature. “Ini penting, agar masyarakat tidak merasa bosan,” ujar almarhum.

Menurut almarhum, kondisi wartawan saat diakui atau tidak, jauh berbeda bila dibandingkan dengan wartawan tempo dulu. Sekarang banyak wartawan mulai mengesampingkan aturan yang tertuang dalam UU Pers Nomor 40 tahun 1999 dan kode etik jurnalistik.

“Saya harapkan teman-teman wartawan dalam menulis berita konflik, wajib hukumnya cover both side. Jika tidak ini akan berbahaya. Apalagi bila persoalan ini diseret sampai ke dewan pers oleh pihak yang merasa dirugikan, karena dewan pers melihat persoalan berdasarkan kacamata kuda,” katanya.

Disamping itu, almarhum jika meminta para wartawan agar rajin membaca guna meningkatkan wawasan pengetahuan dan memperbanyak pembendaharaan kosa kata.

“Wartawan itu kalau ingin bagus menulisnya, wajib membaca sastra dan novel. Dari membaca itulah, kita akan banyak belajar tentang beragam hal dalam penulisan,” ucapnya.

Kepergiaan Almarhum Kang Hasan meninggalkan luka mendalam bagi semua kalangan, tak terkecuali Ghiok Riswoto salah satu mantan anak buahnya yang kini berkiprah
di koran nasional.

“Selamat jalan sahabat, kakak, orang tua. Terima kasih atas segala kebaikkan dan bimbingannya selama ini. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan menempatkanmu di tempat terbaik. Insya Allah segala kebaikkanmu semasa hidup akan mendapatkan balasan setimpal dari Allah SWT. Selamat jalan kawan,” tulis ghiok dalam status facebooknya.

Hal senada juga diungkapkan budayawan asal Cirebon Nurdin M Noer dalam status facebooknya. “Innalillai Wa Innalillahi Rajiun… Allhummagfirlahu Warhamhu Waafihi Wafuanhu. Aamiin. Telah berpulang ke Rahmatullah.. Saudara kita Hasan Ma’arif (mantan Wartawan senior di Pikiran Rakyat) semoga allah mengampuni segala dosa nya, diberi penerangan dalam kuburnya, dan mendapatkan Rahmat dari Allah. Aamiin.” (JFA/”KC“)