Jakarta, Pakuan Pos – respons keras ditunjukkan pihak Unhas terkait tudingan salah seorang pengurus IDI, Rianto Setiabudy, yang menyebut disertasi dokter Terawan Putranto tentang “cuci otak” tidak kredibel.

Bahkan disebutkan, adanya dugaan tekanan yang diterima para pembimbing dokter Terawan sehingga lulus dalam disertasi berisi metode “cuci otak” tersebut.

Alih-alih menanggapi tantangan tersebut, PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) malah mengunjungi Panglima TNI Andika Perkasa di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta pada Selasa, 5 April 2022.

Kunjungan tersebut diungkap dokter Arif Budi Satria, ahli bedah RSU Pusat Surakarta melalui akun twitternya.

Menanggapi pertemuan tersebut, Ketua Umum Forum Pimred Siber Indonesia, Bernadus Wilson Lumi mengatakan bahwa pertemuan PB IDI ke Panglima TNI bukan saat yang tepat.

“Bukan saat yang tepat jika IDI melakukan audiensi ke Panglima TNI disaat sedang menjadi sorotan masyarakat,” kata Wilson Lumi, Rabu, (13/4).

Menurutnya, pertemuan tersebut terkesan mencari dukungan ke Panglima TNI, kendati katanya bertujuan untuk sinergitas IDI dengan TNI untuk ketahanan kesehatan.

“IDI saat ini tengah menjadi sorotan, oleh sebab itu lebih baik para pengurus membenahi masalah internal terlebih dahulu. Apakah kunjungan itu karena IDI khawatir jika akan terbentuk Ikatan Dokter Militer seperti usulan Hendro Priyono?” sergah Wilson.

Daripada menghadap Panglima TNI, lanjut Wilson Lumi, lebih baik PB IDI melayani tantangan debat yang dilontarkan pihak Unhas.

“Unhas itu universitas tertua di wilayah timur Indonesia dan telah meluluskan banyak dokter dengan kualitas yang tidak diragukan,” ucap Bernardus Wilson Lumi yang juga mantan Stafsus Bidang Media di TNP2K dimasa pemerintahan SBY-Boediono.

Sebagai orang Sulawesi Wilson merasa terusik jika PB IDI meragukan kredibilitas Universitas Hasanudin dan meminta agar pengurus IDI intropeksi diri karena di dalam tubuh PB IDI banyak kepentingan yang bermain. (*)