Surabaya, Pakuan Pos – Fahd El Fouz (Ketum DPP BAPERA) Mengatakan, manfaat berziarah ke makam para ulama dan wali-wali Allah disamping akan mendatangkan keberkahan bagi para peziarah juga menyadarkan mereka akan kealiman dan kesolehan orang yang berada di dalam kubur, ucapnya, Rabu, (27/7) di Makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur.

Dilansir dari beberapa media, Wali songo secara sederhana artinya sembilan orang yang telah mencapai tingkat wali, suatu derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga (mengawal sembilan lubang dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali.”

Fahd El Fouz A Rafiq rutin Ziarah ke Makam Wali Songo tiap tahun,di tahun Shio macan air( 2022) ini beliau lakukan hal serupa dimulai dari Tanggal 26-27 July.

Ziarah kubur dimulai dari Sunan Gunung Jati – Sunan Kalijaga – Sunan Kudus – Sunan Muria – Sunan Bonang. Selanjutnya pada hari Rabu 27 Juli ke makam Sunan Drajad – Sunan Giri – Sunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)  dan terakhir Sunan Ampel.

Manfaat ziarah kubur dapat terbagi menjadi dua macam, yaitu manfaat bagi peziarah dan manfaat bagi jenazah di dalam kubur. Bagi yang masih hidup ziarah kubur agar Mengingatkan peziarah akan kematian, Mengingatkan peziarah tentang pembalasan di hari kiamat, Melaksanakan dua perintah Nabi Muhammad SAW sekaligus. Dan untuk yang masih di alam Kubur,menyenangkan hati para ahli kubur dan meringankan siksa kubur

Di contoh lain ada  tiga manfaat ziarah kubur. untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, bertawasul, dan  mengambil pelajaran (lil i’tibâr).

Di dalam Alquran surat Yunus ayat 62-63 dijelaskan bahwa Wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa kepada Allah swt. Keimanan yang dimiliki Wali Allah tidak dicampuri oleh kesyirikan. Keimanan para Wali Allah tidak sekedar pengakuan, tetapi keimanan mereka menghasilkan ketakwaan. Mereka melakukan apa yang diperintah oleh Allah dan menjauhi apa yang di larang-Nya.

Ajaran Wali Songo memberikan dampak positif untuk sejumlah budaya baru di masyarakat Jawa, seperti kesehatan, bercocok tanam, perdagangan, kebudayaan, seni, kemasyarakatan sampai ke pemerintahan.

Singkat sejarah, ada utusan dari negeri Persia yang bernama Syekh Subakkir. Beliau di utus dari negeri timur tengah untuk menyiarkan agama Islam ke tanah Jawa. Namun karena pada saat menyiarkan Agama Islam di pulau Jawa, permasalahan terbesar adalah mendapat dampak dari kekuatan gaib yang jahat, yang masih mengendalikan tanah Jawa.

Pada era pendirian masyarakat masih kokoh untuk memegang keyakinan lama mereka. keyakinan masyarakat di akibatkan oleh banyaknya makhluk gaib yang menempati dan mempengaruhi masyarakat untuk memuja berhala dan segala hal yang berbau musrik lainnya.

Dalam kisah, akhirnya Syekh Subakir berikhtiar untuk menghentikan gangguan Jin dan setan itu. Atas seizin Allah SWT Syekh Subakir menggunakan perantara lewat batu hitam yang ia tempatkan di tengah-tengah pulah Jawa yaitu di Gunung Tidar di Malang Jawa Tengah. Sesudah memasang batu hitam itu keluarlah kekuatan gaib yang menimbulkan pergolakan besar sehingga membuat jin dan setan mengamuk.

” Meskipun kamu bisa membendung akan amukan kami serta kamu bisa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. tapi tujuan kami menyesatkan manusia masih tetap berlaku atas-ku.” Kata setan.

” Apakah yang kamu maksud kan itu?” kata Syekh Subakir. ” Aku masih di izinkan untuk menggoda para manusia, termasuk menggoda orang-orang Islam yang memiliki iman tipis”. Kata setan

Sejarah Singkat Wali Songo yang dikenal publik

Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shodiq)
Menara Kudus sendiri menjadi ikon, tak hanya di kawasan makam Sunan Kudus, tapi menjadi ikon Kabupaten Kudus.
Dalam mihrab masjid tersebut terdapat inkripsi dalam bentuk batu bertulis yang terletak di atas mihrab menggunakan huruf dan bahasa Arab. Isinya tentang pendirian masjid Menara pada tahun 956 H atau 1549 M oleh Ja’far Shadiq (Sunan Kudus).

Mengenai batu tersebut, ada cerita menarik yang masih hidup dikalangan masyarakat Kudus. Pada zaman dahulu saat Sunan Kudus menunaikan haji dan bermukim di sana, terdapat wabah penyakit aneh yang menyerang penduduk daerah tersebut. Mereka pun meminta tolong kepada Sunan Kudus karena ada anggapan wabah itu terjadi akibat mereka mengolok-olok Sunan Kudus yang saat itu terkena penyakit kudis. Akhirnya wabah itu pun bisa dihentikan oleh Sunan Kudus. Atas jasanya, Sunan Kudus diberi hadiah oleh Amir dari Arab, tapi Sunan Kudus malah menolak. Dia malah meminta sebuah batu sebagai kenang-kenangan yang akhirnya dijadikan peringatan pendirian masjid.

Sunan Gunung Jati ( Syekh Syarif Hidatullah)
Sunan Gunung Jati mahir dalam bidang politik dan menjadi Raja Cirebon membuatnya perlu menguasai strategi perang supaya bisa mempertahankan wilayah kekuasaannya. Berkat kelihaiannya dalam berstrategi perang, beliau berhasil menaklukkan Kerajaan Rajagaluh, Kuningan, Talaga,  Banten bahkan bisa menguasai Sunda Kelapa.

Sunan Kalijaga (Raden Said)
Karomahnya: antara lain Menghilang, berjalan diatas air, sholat Jumat di tempat berbeda, mengubah tanah menjadi emas, dan masih banyak lagi.

Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin)
Karomahnya antara lain: Menghilang, adu kesaktian dengan Begawan Mintu Semeru, Mengubah Pasir Menjadi Barang Dagangan.

Sunan Ampel ( Raden Rahmat)
Membawa ajaran Islam dengan filosofinya yang terkenal yakni Moh Limo. Tak hanya itu, Sunan Ampel juga dikisahkan memiliki karomah yang luar biasa.

Misalkan saja kisah di mana Raja merasa resah dengan ritual Bhairawa Tantra. Dikutip dari “Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Ajaran Moh Limo Sunan Ampel” karya Ahmad Yulianto, sebagian masyarakat di Jawa kala itu menganut aliran Bhairawa Tantra yakni terkenal dengan ritual Panca Ma yang berarti mamsa (daging), matsya (ikan), madya (minuman keras), maithuna (bersetubuh), dan mudra (semedi).

Sunan Drajad (Raden Syarifuddin)
Moh Limo ini merupakan ajaran yang selaras dengan nilai nilai Islam. Dalam bahasa Jawa Moh Limo artinya menolak melakukan lima hal, yakni moh ngombe (tidak mabuk), moh madat (tidak mengonsumsi narkoba), moh maling (tidak mencuri), moh main (tidak berjudi), dan moh medok (tidak melakukan zina).

Sunan Drajad  Adapun empat pokok ajaran Sunan Drajat yaitu, pertama, paring teken kang kaluyon lan wuta, artinya: berikan tongkat kepada orang buta. Kedua , paring pangan marang kang kaliren, artinya: berikan makan kepada yang kelaparan. Ketiga, paring sandang marang kang kawudan, artinya: berikan pakaian kepada yang telanjang. Keempat, paring payung kang kodanan,

makna filosofi kehidupan yang dinamakan “tujuh sap tangga”, yaitu

Memangun resep tyasing Sasoma” bermakna keharusan bagi kita untuk membuat hati semua orang senang, “Jroning suka kudu eling lan waspada” memiliki makna saat kita bahagia kita tidak boleh lupa dan selalu bersyukur kepada Tuhan dan tetap waspada,

Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah”  ajaran untuk tetap teguh, berusaha keras, dan tidak putus asa untuk mencapai cita-cita luhur,

“Meper hardening pancadriya” yakni anjuran untuk menahan besarnya nafsu., Heneng-Hening-Henun Heneng-Hening-Henung” berarti saat kita terdiam, maka akan menghadapi suasana hening, dan di situ kita dapat berusaha berdoa untuk mencapai cita-cita mulia.

Catur Piwulang yakni anjuran untuk berbagi ilmu kepada seorang yang masih belum memahami segala sesuatu.
Seperti ajaran untuk bersedekah, ajaran tentang kesusilaan kepada semua orang yang kurang memiliki rasa malu, serta melindungi dan memberikan bantuan kepada setiap orang menderita.

Sunan Muria (Raden Umar Said)
Walisongo termuda ajarannya yang dikenal masyarakat adalah meruwat bumi, Nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Said Salah satu tradisi yang diubah oleh Sunan Muria adalah bancakan (selamatan), yang diubah menjadi kenduri untuk mengirim doa kepada para leluhur melalui doa-doa Islam.

Salah satu kisah pewayangan yang kerap disampaikan oleh Sunan Muria dalam dakwahnya adalah Topo Ngeli, yang berarti menghanyutkan diri dalam masyarakat.

Kisah itu sebelumnya juga pernah diceritakan oleh Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Muria juga menciptakan karya.

Karya Sunan Muria adalah Tembang Macapat, tepatnya Sinom dan Kinanthi.
Oleh sebab itu, Sunan Muria mengajarkan masyarakat untuk meruwat atau merawat bumi. Adapun beberapa ajaran Sunan Muria dalam Meruwat Bumi di antaranya:

Tradisi Guyang Cekathak (tradisi meminta hujan), Buah Parijoto (ziarah ke makam Sunan Muria), Tembang Macapat Sinom Parijotho (tembang ciptaan Sunan Muria)

Sunan Gresik (Sunan Maulana Malik Ibrahim)

Sunan tertua dipulau Jawa, karomahnya antara lain menurunkan hujan ketika musim kemarau. MENGUBAH BERAS MENJADI PASIR, Memiliki Doa yang mustajab.

Sunan Giri (Ainul Yaqin)

Karomahnya:

– Begawan Mintu Semeru pun datang ke Gresik untuk beradu kesaktian dengan Sunan Giri. Saat itu terjadi 4 pertarungan seperti merubah angsa menjadi seekor naga, menyusun ribuan telur, adu kesaktian jubah serta ikat kepala, dan menerbangkan tempayan (wadah air).

Dari semua adu kesaktian itu, semua bisa dimenangkan oleh sunan Giri, dan begawan Minto Semeru mengaku kalah. Akhirnya begawan Minto Semeru menjadi pengikut Sunan Giru dan menjadi santri di pesantren milik sunan Giri.

– Mengubah pasir menjadi Barang Dagang.

Kesimpulan, ziarah kubur adalah selain mengingatkan kembali pada alam selanjutnya dan kita juga belajar sejarah akan penyebaran islam di Indonesia dan perjuangan masyarakat dalam mengenal Allah SWT, Tutupnya. (Asw)