Jakarta, Pakuan Pos – Majunya sebuah bangsa dan negara dilihat dari kompak atau tidaknya kumpulan suku, etnis, agama khususnya yang ada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak Pilkada DKI Jakarta 2017 pecahlah dua kubu etnis yang satu mewakili Etnis keturunan Arab dan etnis Tionghoa dan
hingga hari ini masih mencaci maki dengan sebutan Kadrun dan Cebong hal tersebut masih berlangsung di dunia Maya yang berefek langsung pada kehidupan nyata.

Fahd El Fouz A Rafiq (Ketua Umum DPP Bapera) mengatakan, “Antropologi bangsa Indonesia dalam studi yang dikeluarkan oleh Snouck Hugronje dan Cliverts Gertz ada istilah “Antropologi Dendam”. Dalam Islam biasa disebut Mayority with Mentality and Minority.

Ungkapan yang sering digunakan untuk menggambarkan aktivis Islam di Indonesia, bahwa mereka adalah “Mayoritas dengan Mentalitas Minoritas”.
Istilah itu berasal dari FW Wertheim, tapi mungkin “aktivis” bukanlah kata yang sebenarnya, lebih seperti Muslim dengan kesadaran dan  semangat identitasnya. Apa pun intinya hal tersebut adalah frasa menggugah yang sangat masuk akal.

Indonesia berpenduduk mayoritas Muslim selain menjadi negara Muslim terbesar di dunia, dan ini adalah di mana kesalehan dianggap sangat serius oleh Muslim dan non-Muslim.  Ada argumen di luar sana bahwa Islam Indonesia “tidak masuk hitungan”, ini bersumber dari buku The Religion of Java karya Geertz  Namun demikian, meskipun mayoritas dominan, mentalitas di antara banyak Muslim Indonesia serupa dengan minoritas, bahwa aspirasi mereka diabaikan, mereka menghadapi diskriminasi sistematis, tidak memiliki politik (atau bahkan, sungguh, sosial) yang layak.  perwakilan, dll.

Jadi, “ini mengarah pada hasil yang aneh dari mayoritas yang dominan secara numerik yang menuliskan strategi politiknya dalam bahasa minoritas yang tertindas”, ucap pria yang berusia 39 tahun ini.

Ilmuwan politik dilatih untuk mencari pola dan kesamaan lintas negara dan konteks.  Dan saya pikir konsep mayoritas dengan mentalitas minoritas sebenarnya sangat cocok dengan kasus Kekristenan politik Amerika.  Maksud saya ini dalam pengertian berikut: sebagai proyek politik, Kekristenan di Amerika Serikat bergantung pada gagasan bahwa orang Kristen ditekan atau dikecam dengan cara tertentu.  Ini terlepas dari kenyataan bahwa Amerika Serikat mungkin adalah ekonomi industri maju yang paling saleh di dunia, di mana bahkan Ithaca yang hippy-progresif memiliki lusinan gereja dari setiap denominasi.

Tapi tetap saja retorika yang kita dengar adalah bahwa di Amerika orang Kristen dan hak-hak mereka sedang diserang.  Saya pikir iklan ini merangkumnya dengan sempurna, ungkap Pria yang sedang menempuh S3 ini.

Dalam kasus di tanah air ada yang menciptakan Diksi Kadrun dan Cebong, ada strategi halus untuk menciptakan perpecahan sosial (yang merupakan mentalitas “kita versus mereka”) untuk memaksa kelompok-kelompok untuk menyelaraskan suatu masalah dengan cara membentuk koalisi pemenang minimum, dan inilah ujian sebenarnya Revolusi Mental dengan tema Nawa Cita pada pemerintahan Joko Widodo.

Ilmuwan politik menyebutnya formasi pembelahan endogen.  Ini adalah perspektif yang berbeda tentang bagaimana identitas dibentuk. Daniel Posner berargumen bahwa, identitas ganda ada dalam masyarakat mana pun (agama, ras, budaya, bahasa, dll.), dan identitas yang menonjol secara politis adalah yang memungkinkan terbentuknya koalisi pemenang minimum.  Saya menyarankan bahwa ketika satu identitas tidak menjadi pemenang minimum (karena mayoritas agama dominan secara numerik di Indonesia dan Amerika Serikat) maka identitas itu sendiri dibentuk atau disusun kembali sedemikian rupa sehingga menjadi pemenang minimum.

Kita belajar  memahami bagaimana kelompok-kelompok yang ingin menggunakan agama untuk mencapai kekuasaan politik melakukannya, dalam pilihan strategi di antara kelompok-kelompok agama yang dominan secara numerik mencoba untuk memajukan platform melalui cara-cara politis.

Di USA pembingkaian isu pernikahan gay di sini sebagai tidak memberikan hak kepada kelompok yang telah diingkarinya, melainkan mengambil hak dari kelompok yang selalu menikmatinya.

Intinya adalah saya pikir kita melihat strategi yang sama di sini.  Kelompok-kelompok yang dominan secara numerik harus menyampaikan tuntutan mereka dalam istilah-istilah yang membuat diri mereka tampak kecil atau berisiko untuk memobilisasi pendukung mereka demi mencapai tujuan.  Saya pikir ini konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang aksi kolektif dan gerakan sosial dan jenis kondisi yang membuatnya sangat reaktif.

Putra pedangdut kondang A Rafiq ini memberikan usulan, agar para petinggi negara kembali gelar rembuk dan silaturahmi nasional untuk menyelesaikan persoalan yang membahayakan persatuan Indonesia tersebut. Sikap Negarawan sejati harus di tunjukkan di hadapan publik hilangkan sikap ego dan saling memaafkan sesama anak bangsa. Jika ada “Antropologi Dendam” sesama anak bangsa harus kita pecahkan bersama.

Menjaga Persatuan Indonesia adalah tugas kita bersama tidak bisa di bebankan begitu saja kepada TNI dan Polri. Dari rangkaian uraian diatas kita kembali pelajari abstraksi social semen bangsa Indonesia. Jangan pernah lelah menjaga persatuan negeri yang  kita cintai ini, tutup Mantan Ketum DPP KNPI. (Asw)