Cigombong, Pakuan Pos – Satu lagi bangunan peninggalan kolonial Belanda yang merupakan salah satu cagar budaya sejarah bangsa di Kampung Pode CWS Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, tinggal puing – puing dan nyaris roboh karena tanpa perawatan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, bangunan peninggalan penjajah Belanda itu dahulu di gunakan sebagai salah satu tangsi militer dan sebagai kantor dan gudang produksi perkebunan karet dan teh.

Menurut Heri (40) warga setempat yang seumur hidupnya tinggal di perumahan perkebunan itu, tidak pernah ada perawatan khusus yang dilakukan pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Malahan, oleh para pegawai PTPN Nusantara VIII saat ini, bangunan – bangunan serta lahan lahan kosong di area tersebut dipersewakan kepada umum.

“Selama saya tinggal disini belum ada perawatan atau peninjauan dari pemerintah sebagai salah satu upaya dalam melestarikan cagar budaya sejarah bangsa. Malah sekarang banyak yang menyewa garap”, ujar Heri, Rabu (14/04/2021).

Berdasarkan pantauan di lokasi, terdapat beberapa bangunan Belanda yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Salah satunya bangunan di bagian depan yang di bagian atas bangunanya tertulis “ANNO 1934”, yang belum diketahui apa arti kata tersebut. Sementara dibagian tengah area teraebut berdiri bangunan yang kerap disebut warga setempat sebagai Gedong, yang kini dihuni oleh sejumlah kepala keluarga.

Konon, diyakini warga setempat dibawah bangunan yang disebut Gedong itu terdapat lorong bawah tanah yang belum diketahui dimana posisi persisnya dan fungsinya sebagai apa.

“Info adanya terowongan bawah tanah di bawah gedong itu sudah bukan rahasia umum lagi bagi warga disini. Dan terkait banyaknya harta karun yang terpendam dikawasan ini bukan hanya sebuah mitos tapi merupakan fakta”, tambah Sugeng, warga lainya.

Fakta terkait adanya harta karun yang terpendam di kawasan eks kantor dan gudang produksi perkebunan karet dan teh PTPN Pode itu terbukti beberapa tahun silam ketika sekelompok warga negara Jepang tiba – tiba membeli sebidang tanah berukuran sekitar 6 meter x 6 meter dengan harga yang cukup mahal. Selain itu, warga negara Jepang itu pun memberikan kompensasi kepada warga sekitar dengan memberikan sejumlah uang. Hal itu awalnya membuat warga bingung.

Namun, rasa penasaran warga terjawab setelah sekelompok warga negara Jepang itu berhasil mengangkat harta karun dalam beberapa guci yang isinya berbagai jenis perhiasan, seperti berlian, emas murni dalam bentuk cincin, kalung dan gelang yang nilainya ditaksir mencapai milyaran rupiah.

“Saat penggalian harta karun itu saya ikut kerja. Dan setelah beberapa hari penggalian akhirnya harta karun itu ditemukan. Orang jepangnya waktu itu bawa peta yang tampak sudah sangat usang. Harta karun itu mereka bawa semua”, tandas Heri.

Menyiapi hal itu, Bayu Ketua Rayon Generasi Muda FKPPI Rayon 10.04 – 15 Cigombong – Cijeruk mendesak kepada pemerintah daerah agar segera mengambil langkah tegas dalam menyelamatkan cagar budaya sejarah bangsa.

“Kepada Ibu Bupati yang terhormat kami berharap agar segera menintruksikan kepada dinas terkait agar melakukan langkah cepat sebelum cagar – cagar budaya dan sejarah bangsa kita punah”, pintanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Perkebunan Nusantara VIII belum bisa dimintai keterangan. (Raden)