Pakuan Pos – Sejenak mengingat masa silam
Tanpa dengan kacamata hitam
Melainkan batin menerawang penuh pilu dan haru
Begitu kalbu itu ada dalam kesesatan waktu yang musti mampu memutuskan hal yang cepat
Lompatan granat dan mesiu mendahului palu, garpu, golok, keris, kujang maupun senjata dari rampasan.

Kehidupan yang terbatas
Makan minum pun entah
Jeritan anak-anak dan ibu-ibu hamil kan melahirkan
Dimana mereka dapat ketenangan
Semua menunggu kepastian
Doa-doa mereka terhampar
Harapan mereka di benaknya terbuyar
Perang harapannya segera berakhir
Menuju saat tiba kemerdekaan.

Masih kah kini mengingatnya
Kekacauan bangsa sulit bangkit untuk menata
Tangisan bangsa mampu membangun jalan raya.
Jalan setapak bersela badan tersisa
Di tengah bebatuan tubuh kelu jasad meringkik keseharian yang ditemukan
Saudara seibu tak lagi ingat dimana kuburnya
Saudara se bangsa astana terakhir entah dimana
Tak ada pemakaman layaknya pahlawan hari ini ditaburi bunga
Disematkan bintang tanda jasa
Entah kini doa siapa menggema di bumi Pertiwi
Meringkik tak bertepi
Mencari jalan tersesat
Menyasar di lembah-lembah garis perbatasan
Doa siapa yang kini butuh jawaban
Saat ketenangan dalam pertemuan
Hanya sebatas cerita dan nostalgia
Retorika yang tak bermakna
Kecut dan asam membuat keriput badan.
Masih adakah jawab doa
Saat para pejuang ada digaris kemiskinan
Reruntuhan atap dari rumbia bahkan masih ada yang hidup digubug dan kolong jembatan
Doa siapa yang menembus langit-Nya
Agar tak terdengar tangis mengiris hati.

Kemana saudaranya
Siapa saudaranya
Hanya berharap dari bangsa merdeka namun ditukar dengan bantuan yang tidak merata.
Hapuskan air mata pak Jenderal
Bintangmu kini bukan apa-apa!

Karya: Ace Sumanta
(Rumah Baca, 2 Agustus 2021)