Dekat Ibukota, Gunung Gede dan Gunung Salak Jadi Favorit Hangout Pendaki Urban

    0
    598

    Bogor, News Warta Publik – Setiap akhir pekan, dua gunung yang masuk dalam kawasan dua taman nasional yakni Gede Pangrango dan Salak Halimun selalu dipadati para pendaki urban. Sehingga bisa disebut dua gunung tersebut saat ini menjadi favorit hangout pendaki milenial.

    Tak hanya pendaki urban, banyak juga penggemar olahraga lari gunung atau trail runner atau mountain runner pun ikut meramaikan jalur pendakian di dua gunung yang ketinggiannya relatif rendah itu.

    Pasalnya, selain dekat dengan ibukota karena jarak tempuhnya singkat sehingga mudah dijangkau. Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan Taman Nasional Gunung Gede (TNGGP) Pangrango juga dua tahun terkahir ini menjadi destinasi favorit para pendaki urban yang memiliki segudang kesibukan tapi ingin tetap menyalurkan minatnya yakni dengan cara pendakian singkat ke Puncak tanpa camping (bermalam mendirikan tenda)

    “Karena waktu kita sangat sedikit, bisa santai hanya saat hari libur saja, itupun hanya satu atau dua hari. Ketika di medsos ada komunitas pendakian tanpa harus ngecamp saat itu juga saya gabung, ternyata seru dan mengasyikan juga,” Ary, 32, warga Jakarta Selatan saat ditemui di pos pendakian Gunung Salak via Cimelati, belum lama ini.

    Hal senada diungkapkan Wanty Dyandra, 27, guru asal ibukota penggemar alam bebas ini sudah banyak melakukan pendakian gunung di Indonesia. Khususnya saat masih berstatus mahasiswa. Namun setelah bekerja, tak banyak waktu untuk menyalurkan minat atau hobinya.

    “Makanya saya bergabung di komunitas gunung Salak, yang memang rutin menggelar pendakian singkat tanpa harus bermalam di Puncak. Saat di Gunung kita cukup menikmati perjalanan dan Puncak dengan memperbanyak foto,” ujarnya.

    Namun tak demikian dengan Dian Rosdiana, 26, karyawan swasta asal Kota Bogor dan Gisella, 22, mahasiswa asal Depok. Keduanya mengaku rutin ke dua kawasan Taman Nasional yang letaknya tak jauh dari ibukota ini karena semata-mata hanya ingin memperbanyak pengalaman dan dokumentasi pendakian.

    “Itupun kita bisa melakukan pendakian hanya saat akhir pekan saja dan tetap bermalam di Puncak atau di Pos menjelang Puncak Gunung Gede maupun Salak, setelah itu kita cepat langsung pulang karena besoknya harus kembali kerja,” kata Rosdiana diamini Gisella yang keduanya berkenalan di media sosial karena sesama penikmat alam bebas dan sering mengikuti open trip pendakian sejumlah gunung di Indonesia.

    Sementara itu, berdasarkan informasi dihimpun menyebutkan saking tingginya peminat alam bebas dadakan belakangan ini membuat petugas kawasan kerepotan sehingga memperketatnya.

    Hampir setiap akhir pekan, kawasan TNGGP penuh dengan para pendaki, sedikitnya 750 orang memadati jalur pendakian Gede Pangrango. Untuk mengantisipasi, hal yang tak diinginkan dan terjadinya kerusakan ekosistem, TNGGP membatasi pendakian Gunung Gede dan Pangrango dengan quota perhari 750 yang dibagi melalui tiga pintu masuk.

    Untuk pendakian jalur Cibodas sebanyak 300 orang, via Gunung Putri 250 orang dan Salabintana 200 orang. “Kalau hari biasa ada saja, dan jumlahnya bisa ratusan, tapi untuk akhir pekan beberapa tahun belakangan ini pendakian Gunung Gede Pangrango selalu full, makanya kita perketat masuknya dengan cara memberlakukan booking online dan pemeriksaan kesehatan,” kata Qurani Kristina, Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur Balai Besar TNGGP.

    Tak hanya itu, dalam menerbitkan izin pihaknya mensyaratkan pendaki untuk masuk TNGGP minimal tiga orang perkelompoknya dengan lama satu malam dua hari.

    “Sebelum masuk mereka harus tetap mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi), setelah memperoleh izin. Setiap pendaki wajib membawa perlengkapan pendakian yang memadai seperti jaket, baju, hangat, sarung tangan, jas hujan, ponco, sepatu dan lain-lain,” ungkapnya.

    Tak hanya itu, pengunjung juga diwajibkan membawa perbekalan secukupnya (makanan, minuman dan obat-obatan). “Demi keselamatan, meski dalam karcis masuk sudah dijamin asuransi jiwa, kita tetap mewajibkan para pendaki mentaati aturan atau Standard Operasional Procedure (SOP),” katanya.

    Sementara itu, Abah pemilik Vila di kawasan kaki Gunung Salak di jalur Cimelati, Sukabumi mengaku hampir setiap hari ada saja para pendaki yang mayoritas remaja dan anak muda melakukan pendakian melalui jalur Cimelati.

    “Bahkan tempat saya ini sudah menjadi basecamp wajib jika pengunjung TNGHS mau ke Puncak Salak I, pasti istirahat sebelum dan sesudah pendakiannya disini,” ujarnya.

    Meski jalur pendakian Gunung Salak I via Cimelati ini relatif terjal dan kurang safety bagi pendaki pemula, namun tak sedikit yang memasuki kawasan TNGHS melaluinya. Padahal jalur resmi masuk kawasan TNGHS saat ini hanya satu pintu saja yakni melalui Cidahu, Sukabumi.

    “Kalau lewat Cidahu memang jalurnya laindai tapi sangat jauh untuk mencapai puncak salak I, karena memutar. Sedangkan kalau lewat Cimelati cukup singkat yakni 6-8 jam namun treknya terjal minim jalan datar, kalau Cidahu bervariasi ada yang terjal maupun datar hampir imbang,” ungkapnya. [ Red ]

    Reporter by Andy Diava
    News Warta Publik