Pakuan pos – Saat Provinsi DKI Jakarta masih di bawah kendali Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, warga DKI tidak banyak yang tahu kalau mantan gubernur ini begitu mesra dengan perusahaan pelat merah PT Nindya Karya.

Kemesraan ini terlihat dari sejumlah Mega proyek bernilai ratusan miliar yang diborong PT Nindya Karya, adapun perusahaan kecil saat itu hanya bisa gigit jari dan iri.

Salah satu Mega proyek yang menjadi saksi kemesraan Ahok dan PT Nindya Karya adalah Proyek pembangunan Play Over Pancoran. Proyek ini menghabiskan anggaran sebesar Rp156.012.565.000 ditandatangani pada tanggal 18 November 2016. Dengan target pekerjaan selama 393 hari sejak ditandatangani, serta pemeliharaan selama 720 hari sejak penyerahan.

Ada borok dalam Proyek pembangunan Play Over Pancoran yang belum terungkap. Mulai dari dugaan Mark up sampai dugaan kongkalikong PT Nindya Karya dengan subkontraktor vendor.

Contohnya, ada perbedaan volume antara Laporan Persediaan Barang dan Posisi Biaya Konstruksi yang sebanyak 47 item, mulai dari besi beton, pasir, batu, kayu dsb.

Selain itu ada juga selisih harga bahan antara yang dilaporkan PT Nindya Karya dengan biaya sebenarnya yang dikeluarkan Kontraktor Vendor. Seperti biaya besi beton PT Nindya Karya melaporkan menggunakan 3.059.303,63 kg dengan biaya Rp20.353.964.415. Padahal biaya yang digunakan sebenarnya hanya senilai Rp19.723.508.413. sebagaimana dalam laporan kontraktor vendor PT KWOSM, ada selisih sampai Rp 620,4 juta.

Center for Budget Analysis mencatat sedikitnya ada Rp 1,1 miliar selisih biaya yang dicatat PT Nindya Karya dengan biaya yang digunakan sebenarnya, sebagaimana dilaporkan Kontraktor Vendor.

Berdasarkan catatan di atas, CBA mendorong KPK untuk membuka penyelidikan terkait Mega proyek pembangunan Play Over Pancoran. Dikhawatirkan proyek yang ada boroknya inintidak bisa bertahan melawan banjir ibukota. (*)

Jajang Nurjaman
Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis