Pakuan Pos – Gara-gara Bipang Ambawang, jagat maya Indonesia gaduh. Apalagi di media sosial. Saat Presiden Jokowi mempromosikan kuliner asal Kalimantan Barat bagi masyarakat yang tidak bisa pulang kampung. Konteksnya kan dalam rangka Hari Bangga Buatan Indonesia Kemendag. Tapi mungkin salah dalam cara komunikasinya, ya berarti perlu diperbaiki. Kenapa jadi heboh? Karena sekarang, memang banyak orang terpenjara pikiran sendiri.

Era digital begini, bisa jadi banyak orang bebas secara fisik. Tapi terpenjara secara pikiran dan batin. Terpenjara kebencian, keserakahan, dan bahkan terpenjara ketidak-pedulian. Orang salah bukan diperbaiki tapi jadi bulan-bulanan. Kita butuh literasi terpenjara.

Terpenjara itu artinya bukan “dapat dipenjarakan”. Tapi “disekap di penjara”. Itu berarti seseorang yang terpenjara, pasti berbuat salah. Tapi sayang, faktanya hari ini banyak orang yang “memenjarakan” orang lain. Terlalu gampang menyalahkan orang lain. Tanpa tahu apa salahnya orang itu?

Terpenjara. Lalu, bila orang lain salah, apa kita pasti benar?
Jawabnya, belum tentu. Berkaca dari kisah Nabi Yusuf AS. Seorang pemuda tampan yang memesona banyak wanita. Siapapun wanita pasti mudah jatuh cinta. Hingga istri majikannya sekalipun, Siti Zulaikha pun terpikat. Hebatnya, Nabi Yusuf mampu menolak ajakan maksiat. Menolak intimidasi seorang Siti Zulaikha yang juga cantik dan menarik. Meskipun saat itu, tidak ada siapa-siapa di istana. Hanya mereka berdua, bahkan pintu-pintu pun tertutup. Saat itu ya, bukan saat ini.

Nabi Yusuf, mampu mencegah dirinya dari ajakan maksiat. Lolos dari ujian atau godaan syahwat nan dahsyat di kala itu. Tapi akibatnya, Nabi Yusuf pun “terpenjara”. Sekalipun tidak salah tapi Nabi Yusuf tetap dipenjarakan. Ia jadi korban nafsu dan intimidasi sang ratu. Begitulah adanya.

Apa artinya kisah itu? Kadang, kebenaran itu memang menyakitkan jika dinyatakan. Karena hanya sedikit orang yang dapat menerimanya. Sementara banyak orang lainnya, lebih suka menyalahkan. Lalu memenjarakan pihak yang “dianggap” salah. Sekalipun mereka tidak tahu faktanya, tidak tahu niatnya.

Seperti di taman bacaan. Semua sepakat membaca buku itu baik. Tapi sedikit saja dari mereka yang mau membaca. Apalagi peduli terhadap tradisi baca dan budaya literasi. Akibat terpenjara dunia, terpenjara pikiran sendiri. Bahwa kenyamanan itu miliki diri sendiri, bukan untuk orang banyak.

Literasi terpenjara. Hanya mengingatkan. Bahwa hari ini, kita lebih senang menempatkan orang lain pada posisi yang salah. Sedangkan kita sendiri semakin menjauh dari posisi yang benar. Kenapa? Karena masih saja ada orang yang gemar berjuang untuk membenci dengan baik dan benar. Tapi di saat yang sama, lupa untuk menyayangi orang lain sekalipun dengan cara yang salah.

Bipang Ambawang hanya sepenggal kisah terpenjara pikiran sendiri. Salam literasi.

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka