Hidup tak sekadar rindu. dari derai napas lewat angin yang mengabarkan kepergian ayah, kau tanam jutaan benih di sawah itu

Lalu kau bawa pacul dan harapan di antara pagi pembawa kabar. hanya keringat yang mengairi nasib

Hanya sepetak keyakinan, ayahku mengelola nasib di antara lumpur dan daun-daun padi

Topi dan caping di kepala, kau bawa menembus kasih sayangNya yang menghampar sebagai emas

Ayahku, petani tangguh. tak peduli kerja keras melambai-lambai sejauh pandang. petak-petak padi yang tumbuh menyiratkan kasih di sepanjang ayat ayat suci dalam lembaran kehidupan ini

Sekolah dan papan tulis tempat aku melukiskan wajah ayahku, berlumur cita-cita sebagai buku pelajaran esok hari

Ayah, wajahmu penat berkeringat. dari tiap tetes peluhmu yang sejuk, sawahlah sekolah anakmu

Lalu ayah berpesan; jangan kau jemur lumpur sawah ini di tengah teriknya kesombongan kota besar

Sebab lebatnya padi-padi yang tumbuh di galang perswahan ini, telah menghitung-hitung ribuan pejabat sebagai anak petani.

Tirta Bening, Januari 2019
Oleh : Anto Narasoma