Jika tidak lagi ada Tuhan di hatiku
sudah lama aku jadi pemberontak
karena nasib ekonomi mirip terasi
percuma bicara membela negara!
Apa artinya berjuang demi Pancasila
bila karya tidak mampu menghidupi,
di negeri bersebutkan Gema Ripah
Loh Jinawi?

Memang hati Tuhan tidak buta,
tapi siapa yang melek mata jiwa,
menghargai seniman, hidupnya bergantung karya?
Berpuluh tahun, aku mengabdi diri sebagai seniman, dari kelas menteri
sampai tingkat kelurahan, di antara gejolak rakyat terus menuntut praktik nyata berlandaskan teguh Pancasila.

Dulu, Presiden pertama
sangat peduli pada seniman,
terhormat, keluar masuk istana.
maka lahirlah seniman besar kehidupan nyaman bahagia, tapi hari ini, seniman sebatas berpartisipasi menjaga negeri jangan sampai mati …
Seniman berupaya sekuat tenaga ikut mengantisipasi, jangan terjadi bentrok di sana sini, bertahan sebagai juru damai sejati, tanpa pernah berpihak pada kepentingan politik atau golongan, nilai kemanusiaan dijunjung tinggi atasnama cinta Ilahi, kesabaran laksana air samudera, tak pernah habis terkuras, meski nasib selalu ditepian ampas peradaban …

Sudah lama hasratku untuk melakukan pemberontakan, bukan memperebutkan wilayah, memenuhi ambisi bertengger di kursi kekuasaan atau menumpuk kekayaan, tapi di negeri katanya merdeka, nasib seniman jauh dari merdeka, masih butuh belas kasihan, padahal bukan pengemis di jalan … mempertaruhkan hidup lewat karya, lupa waktu memejamkan mata,
lagi-lagi aku mesti merenung, terbelenggu murung …

Kepada kakek aku teringat sampai hari ini, kupatuhi pesanmu hanya kematian yang memisahkan perjuangan di tanah kebangsaan biar mati susah berkalang tanah, ada Tuhan Maha Kaya penjamin surga …

Kepada para pemberontak negara aku tidak akan pernah mau berpihak sebab aku masih diberi sehat otak, Sebuah tanya besar …
apakah hakikat Kesaktian Pancasila sudah mendarahdaging pada setiap jiwa anak bangsa yang bernegara?

Salam Merdeka,
katanya!

Bambang Oeban
17 Agustus 2019
Dari Sudut Desa
Singasari, Bogor.