Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka dan Dosen FBS Unindra

Pakuan Pos – Membaca buku dianggap aktivitas yang membosankan. Membaca buku tidak asyik, tidak menyenangkan. Wajar bila membaca buku kalah jauh dibandingkan bermain handphone. Kalah dibandingkan ngobrol di kafe-kafe. Bahkan kalah dari gosip dan gibah bagi kalangan tertentu. Membaca buku, jadi aktivitas yang kian terpinggirkan.

Bisa jadi, banyak orang kurang memahami “WOW effect” alias efek luar biasa dari membaca buku. Membaca buku yang tidak hanya menambah pengetahuan dan wawasan. Tapi membaca buku sebagai muamalah (perbuatan baik) dan ubudiyah (ketaatan dan mengharap pahala-Nya). Bahkan lebih dari itu, WOW effect membaca buku (seperti disajikan dalam buku “La Tahzan”, Dr. ‘Aidh al-Qarni menyebutkan bahwa membaca buku dapat mengusir ketinggalan dan kesedihan, di samping membasmi kebodohan. Betapa dahsyat dampak membaca buku bagi pembacanya!

Mungkin kita sudah lupa, buku pun cocok dijadikan sebagai teman di kala suka dan duka. Buku sebagai sahabat yang tidak akan pernah menipu dari kemunafikan dan omong kosong. Buku yang mampu jadi teman yang setia menghibur dan memeberi i jalan keluar dari setiap problematika yang ada. Buku tidak cukup untuk dipandang apaagi dipajang. Tapi buku harus dibaca dan membacanya. Sehingga buu mampu memberi kenikmatan yang lezat dan menajamkan kemampuan intelektual. Karena buku pula dapat melancarkan lidah yang kelu dan mengindahkan jari jemari yang membuka halaman demi halaman. Bukan jari jemari yang piawai berkeluh-kesah di media sosial.

WOW effect bersahabat dengan buku. Karena dapat 1) memperkaya bahasa, 2) melembutkan hati dan jiwa, 3) menenangkan pikiran, 4) mengisi hari-hari dengan hal-hal yang positif, dan 5) menjauhkan diri dari perbuatan buruk yang sia-sia.

Bersahabat dengan buku, itulah prajtik baik yang dijalankan di Taman Bacaan masyaraakt (TBM) Lentara Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sebuah tradisi untuk mendekatkan anak-anak usia sekolah dengan buku bacaan. Anak-anak yang diajak akbar dengan buku-buku daripada handphone. Membaca buku bukan untuk pintar apalagi merasa paling tahu segalanya. Tapi membaca buku sebagai muamalah (perbuatan baik) dan ubudiyah (ketaatan dan mengharap pahala-Nya). Sekaligus menjadikan taman bacaan sebagai Sentara peradaban baik masyarakat. Lalu, kenapa masih banyak anak-anak yang masih belum mau membaca buku?

Siapapun yang bersahabat dengan buku. Maka kita tidak akan menghakimi apapun di tengah ketidak-tahuan kita sendiri. Tidak akan meninggi atas keilmuan yang kita miliki. Tidak akan merendahkan siapapun saat merasa sudah tinggi sekalipun. Dan tidak kan hanya pandai berbicara tanpa pernah berbuat secara konkret. Buku-buku yang mampu mencukupkan teori menjadi praktik. Buku yang mampu mengubah niat baik jadi aksi nyata.

Efek WOW bersahabat dengan buku adalah moment of wonder bai siapapun yang membacanya. Membaca buku sebagai Tindakan kecil yang berdampak besar dalam kehidupan. Karena mampu mencerahkan orang-orang yang membacanya, sehingga tercipta independensi intelektual atau kemandirian dalam berpikir. Tanpa keluh-kesah, tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.

Jadi, apakah salah jika orang-orang taman bacaan lebih memilih buku dibandingkan dengan pertemanan yang semu? Karena di balik buku, selalu ada adab dan ilmu. Untuk selalu bersyukur atas apapun, tidak menghina apalagi membenci, tetap menutup aib siapapun, dan tidak mendendam ketika berselisih paham dengan siapapun. Masih belum mau bersahabat dengan buku? Salam literasi.